BBM Tak Kunjung Turun, PKS: Rakyat Tengah Mensubsidi Operasional Pertamina

BBM Tak Kunjung Turun, PKS: Rakyat Tengah Mensubsidi Operasional Pertamina
Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto, (Foto: dpr.go.id)

IDTODAY.CO – Alasan Pemerintah untuk tidak menurunkan harga BBM di saat harga minyak dunia anjlok dinilai tidak logis dan terkesan mengada-ada. Ibaratnya, rakyat harus “mensubsidi” Pertamina dengan membayar lebih mahal harga harga BBM. Padahal, rakyat sudah sangat menderita dengan dampak sistemik yang ditimbulkan oleh wabah Corona.

Melihat kebijakan Menteri ESDM tersebut, Komisi VII DPR RI F-PKS Mulyanto sangat menentang kebijakan pemerintah tersebut yang nilainya tidak masuk akal.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, berdasarkan raker yang diikutinya bersama pemerintah justru malah menjadi fakta yang mendukung perlunya penyesuaian harga jual BBM tersebut.  

Pasalnya, alasan pemerintah yang mengatakan margin (selisih) harga minyak mentah dunia dengan harga jual BBM sangat minim dan dinamis sehingga sangat berisiko jika harus dilakukan penyesuaian tarif. Apalagi, di antara negara Asean harga minyak Indonesia relatif murah. Untuk itu Pemerintah memilih sikap “wait and see” untuk menyesuaikan harga BBM sangat tidak masuk akal.

“Kita sayangkan sikap Pemerintah yang tetap tidak mau menurunkan harga BBM. Padahal itu merupakan keputusan raker Komisi VII dengan Menteri ESDM pekan lalu,” ucap Mulyanto.

Dengan asumsi harga minyak dunia, yg sekitar 30 USD/barel (asumsi APBN 63 USD/barel) serta nilai kurs dollar sekarang sekitar 14.900 rupiah/usd, maka keuntungan Pertamina diperkirakan dapat mencapai belasan triliun rupiah perbulan.

“Harusnya angka itu cukup untuk menjadikan harga BBM jauh lebih murah,” tegas Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini.

Menurut Mulyanto, kegiatan selalu mempertanyakan laba triliunan rupiah yang didapatkan oleh Pertamina, kemana di peruntukkan.

Atas dasar tersebut, Ia pun meminta pemerintah untuk segera melakukan transparansi kepada publik untuk memberikan pemahaman dan menghilangkan kekecewaan dan suudzon bahwa pemerintah di kendalikan mafia migas.

Menurutnya, sangat layak apabila ada anggapan rakyat mensubsidi Pertamina, karena fakta memang menunjukkan demikian.

“Jadi memang tidak keliru juga kalau dikatakan, bahwa dengan harga BBM yang masih tinggi ini, rakyat tengah mensubsidi operasional Pertamina,” terang Mulyanto.

“Ini tentu tidak adil. Di tengah penderitaan wabah Covid-19 ini, masyarakat justru dibebani harga BBM yang tinggi untuk ‘mensubsidi’ Pertamina”, pungkas Mulyanto.[Brz]

Pos terkait