Tanggapi Keputusan Sri Mulyani Tolak Pajak 0% Mobil Baru, Pengusaha: Akhirnya Jadi Senjata Makan Tuan

Dukung Kebijakan Menkeu Tolak Pajak 0% Mobil Baru, Pengusaha: Ngga Mungkin Pabrik Jepang Ninggalin Indonesia
Suasana pusat penjualan mobil bekas di Jakarta Pusat(Foto: Kompas.com/Setyo Adi)

IDTODAY.CO – Para pengusaha mobil bekas sangat mensyukuri keputusan Menteri keuangan Sri Mulyani yang memutuskan untuk tidak permohonan menteri perindustrian terkait pajak 0% pada mobil baru.

Mereka mengatakan, usulan menteri perindustrian hanya akan menguntungkan pabrik mobil gede mayoritas dikuasai perusahaan asing. Sedangkan para pengusaha mobil bekas akan terkapar karena stop yang mereka miliki akan jatuh harga di pasaran.

Bacaan Lainnya

“Efeknya lebih banyak mudhorat daripada manfaatnya. Manfaat yang diuntungin cuma pabrik. Mereka mau jual stok yang sudah mereka bikin. Gimana caranya stok mereka kejual, itu tujuannya, tapi menghancurkan yang sudah ada, yang exist,” kata pemilik Nava Sukses Motor yang berada di Jl. Madrasah No. 23, Cilandak, Jakarta Selatan, Fahmi sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia (20/10).

Fahmi melanjutkan, ada ketidakadilan mengingat pabrik-pabrik besar pada saat merugi teriak-teriak meminta insentif pajak 0%.

“Akhirnya kan jadi senjata makan tuan. Tadinya mau untung akhirnya tambah buntung. Mobil seken aja kena corona wajar rugi, ngga bisa dihindari. Sekarang mereka pabrik-pabrik gede giliran rugi teriak-teriak minta di 0%in. Kemarin-kemarin jualan berapa juta unit tiap tahun, untung gede diem-diem aja,” ucapnya.

“Jangan terlalu [mendukung] ke investor-investor gede. Biasa mereka kan ngancem mau PHK (pemutusan hubungan kerja), tutup pabrik, relokasi. Biasa, tapi ngga usah takut. Indonesia market gede. Sekarang jual mobil dimana sih yang enak. Kan penduduk kita berapa. Mereka pindah rugi juga, tetep aja jualannya di Indonesia,” urai Fahmi.

Fahmi berpendapat bahwa pabrikan mobil asal Jepang tidak akan mungkin meninggalkan Indonesia. Pasalnya, pemerintah memiliki daya tawar yang sangat kuat dengan segmentasi pasar yang sangat besar. Menurutnya, pabrik mobil tersebut akan tetap bertahan di Indonesia meskipun keuntungan mereka sedikit mengalami penurunan.

“Ngga mungkin mereka ninggalin. Kalau mereka ninggalin, yang ada dimakan China. Mobil-mobil Toyota hengkang, dia (China) semua masuk kesini. Jepang kan market gedenya Indonesia. Diemin aja pinter-pinter (lobi) mereka aja,” imbuhnya.[cnbcindonesia/brz/nu]

Pos terkait