Usai Mendapat Hidayah, Mantan PSK Rela Melakukan Ini

  • Whatsapp
Usai Mendapat Hidayah, Mantan PSK Rela Melakukan Ini
ilustrasi-psk-Photo-Shutterstock

IDTODAY.CO – Suasana Cafe Kongsuu di Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman tak ramai seperti biasanya. Hanya terlihat 10 orang duduk melingkar sedang menyantap makan siang pada Minggu (28/2/2021).

Sejumlah orang itu nampak bertato di sekujur tubuhnya. Sambil bersenda gurau, mereka menunggu giliran untuk menghapus tato di cafe milik mantan preman asal Semarang, Pri Anggono.

Bacaan Lainnya
Baca Juga:  Inspiratif, Mantan Tukang Parkir Lulusan SD Kini Punya Motor & Mobil Ratusan Juta

Satu orang wanita yang dituakan di perkumpulan tersebut mengaku jika mereka adalah anak jalanan yang biasa mengamen di sekitar Monumen Jogja Kembali (Monjali), Kabupaten Sleman. Bahkan biasa tidur di jalan dan berpindah-pindah lokasi untuk mencari sesuap nasi.

Baca Juga: Makam Abu Lahab Mengeluarkan Bau Busuk dan Tidak Terawat, Begini Kisah Lengkapnya

“Sudah lama sekali, kami hidup di jalanan. Mengamen dan pindah-pindah. Jadi kami dari berbagai latar belakang dan sangat nyaman berkumpul di lingkungan ini,” jelas Sumiyati ditemui SuaraJogja.id, Minggu siang.

Sumiyati sendiri merupakan wanita yang sudah lama hidup di jalanan. Mengawali sebagai pengamen di wilayah Magelang, wanita yang memiliki dua anak ini terpaksa berlabuh ke DI Yogyakarta menjadi seorang Peke “Awal itu saya masih mengamen di Magelang karena kurang uang, akhirnya saya diajak kakak ngamen di Yogyakarta. Pertama di Yogyakarta saya masih kos sama anak saya dan kakak, lalu mulai ngamen di dekat Terminal Jombor, Sleman,” katanya.

Baca Juga:  Susu Ultra Milk, Mulai dari Usaha Rumahan Hingga Beromset Jutaan Dollar, Yuk Simak Kisahnya!

Setelah memiliki banyak teman di Jombor, wanita 35 tahun ini memilih tinggal di jalan bersama sang anak. Suami pertama Sumiyati meninggalkan dirinya karena sudah tidak betah. Hidupnya sudah terbiasa di jalan dan pada saat itu, dirinya ditawari menjadi PSK.rja Seks Komersial (PSK).

“Saya pindah kerja karena butuh biaya lebih. Saya dengan teman diajak menjadi PSK di Terminal Jombor awalnya. Lalu karena ada razia, akhirnya pindah ke Pantai Parangkusumo, Bantul,” kata Sumiyati. 

Baca Juga:  Memiliki Anak Rajin Memang Asik, Tapi Dampak Negatifnya Mengkhawatirkan!

Hampir 8 bulan dirinya melayani lelaki hidung belang. Pendapatannya juga dirasa cukup untuk membiayai kehidupan dia termasuk anak pertamanya.

Sumiyati mengaku jika keluarga besarnya tak ada yang mengetahui bahwa dirinya menjadi PSK. Bahkan kakaknya yang ada di Yogyakarta juga tak mengetahui Sumiyati harus menjual tubuhnya ke banyak pria.

“Tidak ada yang tahu waktu itu, keluarga juga tidak tahu. Namun, saya mengaku menjadi seorang PSK ke keluarga setelah ada tetangga yang kenal saya melihat aktivitas di Parangkusumo. Setelah itu saya mengaku kepada keluarga, banyak yang terkejut, tapi beberapa keluarga ada yang memaklumi. Ada juga yang menyuruh berhenti,” kenang Sumiyati.

Baca Juga:  Fenomenal, Bocah 8 Tahun Jadi Miliarder Lo

Kehidupannya menjadi seorang PSK berhenti ketika dipertemukan oleh pria yang saat ini menjadi suami kedua Sumiyati. Suaminya yang merupakan pengamen jalanan meminta dirinya menyudahi pekerjaan itu dan berjanji menghidupi Sumiyati dan anak pertamanya dengan cara yang halal.

Baca Juga: Fenomenal, Inilah Kisah Robin Hoodnya Indonesia yang Disayangi Rakyat Miskin Meskipun Merampok

“Sebelum menikah lagi, suami saya berjanji untuk menghidupi kami. Walaupun tidak bisa membuat kami kaya, tapi berjanji untuk memberi kehidupan dari hasil yang halal,” kata dia.

Baca Juga:  Bertekad Hijrah, Mantan PSK Cantik Ini Rela Melakukan Hal Ini

Sumiyati dinikahi setelah memiliki anak kedua dari suami keduanya. Dari situ, dia ikut suami mengamen bersama hingga saat ini.

Selama hidup di jalanan, banyak hal negatif yang dia terima. Mulai mengonsumsi minuman keras (miras) hingga menelan pil koplo. Tentu hal itu mengubah pandangannya dan semakin jauh dengan agama.

Banyak tato yang menempel di tubuh Sumiyati, dari leher, kedua tangan dan kedua kaki. Hal itu dia lakukan karena dirinya belum mengenal agama meski dirinya mengaku muslim saat itu.

Baca Juga:  Meski Lahir Dengan Kepala Terbalik, Pria Ini Mampu Meraih Kesuksesan

Perjalanan menjadi pengamen bersama kedua anaknya dan sang suami masih dia lakukan. Pada akhir 2020 Sumiyati dan teman-teman jalanannya dipertemukan dengan seorang pria yang tergabung di Keluarga Besar Ridho Allah (KBRA) Yogyakarta.

Pertemuannya bermula saat ada pembagian nasi gratis yang dilakukan KBRA ke wilayah Monjali. Sumiyati yang membawa sembilan anak jalanan mendapat makanan tiap harinya. Tak hanya mendapat makanan, KBRA juga menawarkan Sumiyati untuk bisa hidup mandiri tanpa harus mengamen. Selain itu, dirinya selalu mendapat nasehat tentang agama.

Baca Juga:  Kisah Keajaiban Sedekah Bisa Lunasi Hutang

Pria bernama Yon datang menemui mereka. Yon hanya menasehati dan mengajak para anak jalanan itu untuk hidup lebih baik. Selain itu dia juga memberitahu soal pentingnya beragama. Sempat tak menggubris, namun perlahan Sumiyati terpanggil dan terketuk hatinya dengan nasehat Yon.

Baca Juga: Terkena Reruntuhan Durian, Pria Ini Mendapatkan 9,5 Milyar Setelah Sebelumnya Meminjami Uang 3,5 Juta

Pos terkait

Tulis Komentar Anda di Sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.