Duh! Setelah India, China Bawa Kabar Buruk Baru Buat RI

Duh! Setelah India, China Bawa Kabar Buruk Baru Buat RI
Foto: AP/Mark Schiefelbein

IDTODAY.CO – China membawa kabar buruk buat batu bara RI. Negeri itu, berencana untuk mengurangi konsumsi ‘emas hitam’ rata-rata pembangkit listrik menjadi 300 gram per kilo watt hour (kwh) di 2025.

Mengutip Reuters, ini dilakukan guna meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) mengatakan pembangkit listrik yang tidak efisien juga akan ditutup secara bertahap.

Pengumuman ini dilakukan China di tengah berakhirnya KTT iklim COP26 di Glasgow, Inggris. Presiden China sendiri tidak hadir di acara tersebut secara langsung.

Baca Juga:  Keluarga Tentara India Yang Tewas Desak PM Modi Tuntut China Atas Bentrokan Di Perbatasan Ladakh

Ini juga disampaikan kala China terseok-seok dengan krisis energi yang menyebabkan sejumlah wilayah dilanda pemadaman listrik. Hal itu membuat Negeri Panda menggenjot produksi batu-bara.

Sikap ini juga merupakan ‘serangan’ kedua pemerintah Xi Jinping tahun ini, setelah sebelumnya membuat komitmen tidak akan lagi membangun proyek PLTU batu bara di luar negeri. Kala itu ia juga berjanji mempercepat upaya menjadi nol karbon di 2060.

Mengutip Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2020, ekspor batu bara RI terbesar memang ke China. Kemudian disusul India, dan Jepang.

Baca Juga:  PM Israel Diam-diam Bertemu Putra Mahkota Arab Saudi, Bahas Apa?

Pada 2020, ekspor batu bara RI ke China mencapai 127,78 juta ton atau sekitar 31,5% dari total ekspor batu bara nasional yang mencapai 405,05 juta ton. Sementara ekspor ke India mencapai 97,51 juta ton dan ke Jepang 26,97 juta ton.

Adapun ekspor batu bara RI ke China tertinggi terjadi pada 2019 sebelum pandemi Covid-19 menghantam dunia, yakni mencapai 144,41 juta ton.

Baca Juga:  Semangat Jihad Terus Meningkat, Ayatollah Khomeini Ramal Israel Lenyap Dalam 25 Tahun

Sebelumnya, kabar buruk batu bara juga disampaikan India. Negara itu di COP26 mengatakan akan menjadi nol karbon di 2070.

India akan meningkatkan target 2030 kapasitas terpasang “energi non-fosil”. Sebagian besar adalah tenaga surya, dari 450 menjadi 500 gigawatt (GW).

Sebanyak 50% dari kebutuhan energi negara akan datang dari sumber terbarukan. India juga mengumumkan, intensitas karbon ekonomi India -emisi yang dihasilkan per unit PDB- akan berkurang 45% di 2030, dari sebelumnya 35%.

Sumber: cnbcindonesia.com