Gagal Terapkan Sistem Belajar Online, Menteri di Korut Dihukum Mati

  • Bagikan
Gagal Terapkan Sistem Belajar Online, Menteri di Korut Dihukum Mati
Kim Jong Un menghukum mati seorang menteri yang gagal melaksanakan sistem pembelajaran online (Foto: KCNA/Reuters)

IDTODAY.CO – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengeksekusi mati menteri di bidang pendidikan karena dinilai gagal menerapkan sistem pembelajaran online. Menteri yang tidak disebutkan namanya itu dihukum mati setelah penyelidikan di Kementerian Pendidikan Tinggi menunjukkan bahwa pejabat terkait gagal membuat kemajuan yang cukup dengan kebijakan belajar secara daring.

Berdasar hasil penyelidikan, menteri yang dihukum mati justru mengeluh tentang beban kerja dalam panggilan video. Selain itu, menteri tersebut juga mengkritik pemerintahan terkait kebijakan pembalajaran online.

Baca Juga:  Kualitas Buruk, Peralatan Medis Asal China Ditolak Sejumlah Negara Eropa

Laporan hasil penyelidikan yang disampaikan ke Kementerian Pendidikan Tinggi dilakukan oleh Organisation and Guidance Department (ODG) seperti dilansir Harian NRK. “OGD melakukan penyelidikan karena komisi gagal membuat kemajuan apa pun dan karena beberapa pihak telah mengkritik kebijakan pemerintah,” demikian dilansir NRK.

Tuduhan tersebut juga dilaporkan termasuk anggota departemen yang mengeluh di setiap pertemuan tentang pekerjaan mereka, sementara yang lain mempertanyakan kurangnya sumber daya yang disediakan oleh negara. Para pengawas juga disebut telah menyoroti lambannya penerapan kebijakan pembelajaran jarak jauh.

Baca Juga:  Obama Sebut Penanganan Corona Di AS Seperti Bencana Dengan Kekacauan Mutlak

Setelah menteri yang dimaksud dihukum mati, komisi baru disusun ulang di bawah Ri Guk Chol, Presiden Universitas Kim Il Sung.

Kim Jong Un memang tak segan menghukum mati pejabat yang menentang kebijakan pemerintah Korut. Tahun lalu, seorang jenderal Korut dimasukkan ke dalam kolam yang penuh dengan ikan piranha. Jenderal tersebut dihukum mati karena gagal dalam melaksanakan tugas. Sementara lima pembantunya dibunuh oleh regu tembak setelah pertemuan puncak 2019 dengan Donald Trump gagal menghasilkan kesepakatan.

Baca Juga:  Masyaallah, Serentak Gelar Salat Gaib untuk Awak KRI Nanggala-402, Warga Palestina: Rakyat Indonesia Sudah Seperti Saudara Kandung

Baca Juga: Dihajar Impor, Jeruk Petani Lembang Dibiarkan Membusuk di Kebun

Sumber: jawapos.com

  • Bagikan