Langgar Kesepakatan Nuklir 2015, Parlemen Iran Siapkan RUU Pengayaan Uranium

Para teknisi sedang bekerja di pusat pemrosesan uranium di Iran.(Foto: reuters)

IDTODAY.CO – Parlemen Iran terus menyoroti pembunuhan ilmuwan nuklir Iran pada Jumat, pekan lalu. Salah satu bentuk penentangan terhadap tindakan biadab tersebut, Parlemen mendukung Rancangan Undang-undang (RUU) untuk meningkatkan pengayaan uranium mendekati level yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Berbagai hambatan lain dalam program nuklir Iran seperti tercantum dalam kesepakatan nuklir 2015 dengan kekuatan dunia diabaikan oleh RUU tersebut.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi, langkah tersebut tidak dapat mengubah kebijakan nuklir Iran yang merupakan wewenang Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Beberapa anggota parlemen mendukung draf RUU tersebut pada pembacaan pertama saat sidang yang disiarkan langsung di radio.

“Kematian bagi Amerika! Kematian bagi Israel!” teriak mereka sebagaimana dikutip dari SINDOnews (2/12)

Parlemen sering menuntut sikap keras Iran dalam masalah nuklir pada beberapa tahun terakhir, namun upaya itu belum berhasil.

Dalam hal ini, pemerintah harus memutuskan apakah langkah keras atas pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh pada Jumat dapat membahayakan prospek peningkatan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) setelah Joe Biden mengambil alih Gedung Putih.

“Pemerintah percaya bahwa sesuai konstitusi, kesepakatan nuklir dan program nuklir berada di bawah yurisdiksi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan parlemen tidak dapat menangani ini sendiri,” ungkap juru bicara pemerintah Ali Rabiei.

RUU tersebut masih membutuhkan persetujuan dalam pembacaan kedua dan dukungan badan ulama untuk menjadi undang-undang.

Diberitakan sebelumnya, Seorang pejabat senior Iran mengatakan pada Senin bahwa Teheran mencurigai kelompok oposisi berbasis luar negeri yang terlibat dengan Israel dalam pembunuhan Fakhrizadeh. Tuduhan itu ditolak kelompok oposisi itu.

Kantor Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menolak mengomentari pembunuhan itu. Menteri kabinet Israel Tzachi Hanegbi mengatakan pada Sabtu bahwa dia tidak tahu siapa yang melakukan itu.[sindonews/brz/nu]

Pos terkait