Mantan Kepala Intelijen Afganistan: Penarikan Pasukan Dari Afganistan, Tanda Trump Tidak Optimis Pada Upaya Perdamaian

Mantan Kepala Intelijen Afganistan
Mantan Kepala Intelijen Afganistan (Foto: Rmol.id)

IDTODAY.CO – Penarikan pasukan tiba-tiba dari Afghanistan sebagai bagian dari kampanye pemilihan kembali Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat menjadikan negara itu tenggelam dalam konflik yang memanas.

Mantan kepala intelijen Afghanistan telah memperingatkan negara itu bakal berada dalam kekacauan besar.

Di bawah perjanjian perdamaian 29 Februari yang ditandatangani antara Taliban dan AS di Qatar, Washington telah mulai menarik pasukan dari negara itu secara bertahap, sehingga pada musim semi tahun depan, semua personel akan hilang.

Rahmatullah Nabil, mantan kepala Direktorat Keamanan Nasional Afghanistan, mengatakan bahwa Washington siap untuk memberikan peran penting dalam urusan Afghanistan kepada sekutu era perang dinginnya, Pakistan, terlepas dari kenyataan bahwa Islamabad telah menjadi pendukung utama Taliban. Saat penarikan Soviet dari negara itu, Pakistan menggunakan Taliban sebagai wakil untuk memajukan doktrin kedalaman strategisnya.

Baca Juga:  Pelajari Alquran dan Terima Pesan Dari Ibunda, Seorang Pendeta Jadi Mualaf

“Jika kesepakatan itu sedemikian rupa sehingga nasib Afghanistan berada di tangan Pakistan sebagai imbalan atas jaminan penarikan pasukan AS yang kebal dari serangan, saya berani mengatakan bahwa kesepakatan ini tidak dapat dilaksanakan tetapi akan mengarah pada perang yang lebih intensif di Afghanistan dan kawasan sekitarnya,” ungkap Nabil, seperti dikutip dari Arab News, Jumat (29/5).

Menurutnya, jika langkah itu hanya dimanfaatkan Trump untuk dapat menggunakan slogan pemilu “Saya mengakhiri perang di Afghanistan”, maka itu berarti Trump mengungkapkan ketidakoptimisannya tentang prospek perdamaian.

Baca Juga:  Ditengah Wabah Corona, Konflik Di Yaman Terus Berlanjut

Pakistan, di sisi lain, secara konsisten menyerukan proses perdamaian dan rekonsiliasi “yang dipimpin Afghanistan, dimiliki Afghanistan”, dan dialog intra-Afghanistan yang inklusif sebagai satu-satunya cara untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional Afghanistan, yang mengarah pada akhir yang cepat dari konflik yang berkepanjangan.

Pakistan, di sisi lain, secara konsisten menyerukan proses perdamaian dan rekonsiliasi yang ‘dipimpin oleh Afghanistan dan untuk Afghanistan’.

Baca Juga:  Santriwati Asal Madura Nikahi Pria Arab Tajir: Kalau Lagi Bosan, Dipaksa Habiskan Uang di Mal

“Sangat penting bahwa negosiasi intra-Afghanistan dimulai paling awal, yang memuncak dalam penyelesaian politik yang komprehensif dan inklusif di Afghanistan,”

Kementerian Luar Negeri Pakistan mengatakan dalam sebuah pernyataanya, bahwa Pakistan menegaskan kembali komitmennya untuk terus mendukung Afghanistan yang damai, stabil, bersatu, demokratis, dan makmur, damai dengan dirinya sendiri dan tetangganya.

Trump, yang telah menolak untuk menetapkan jadwal penarikan pasukan sepenuhnya, mengatakan AS telah berada di Afghanistan cukup lama.

“Kita selalu bisa kembali jika kita mau,” kata sang presiden saat konferensi pers pada Rabu (27/5) lalu.

Sumber: Rmol.id