Peneliti: Kedisiplinan Masyarakat Lemah, Jokowi Harus Persiapkan Opsi Lockdown

jokowi corona
Presiden Jokowi Bersama Pejabat Negara. Foto: liputan6

IDTODAY.CO – Banyak pengamat mengartikan pernyataan Pak Jokowi “Tidak ada kita berpikir ke arah kebijakan lockdown” sebagai “penutupan kebijakan terkait skenario lockdown dalam menangkal penyebaran virus corona baru alias COVID 19.

Presiden Joko Widodo hanya menyarankan sosial distancing sebagai upaya pencegahan untuk menghindari dampak ekonomi dan sosialnya yang lebih besar.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal tersebut, Pieter Abdullah, Direktur Peneliti Core Indonesia meminta pemerintah untuk tidak menghilangkan skenario lockdown sebagai opsi pemerintah untuk antisipasi kemungkinan terburuk.

Pieter menyadari bahwa lockdown, akan sangat terasa bagi kalangan ekonomi bawah pasalnya, sektor usaha tersebut lebih banyak pada sektor informal.

“Maka sebagian masyarakat kita pedagang informal akan kehilangan pendapatan dan daya beli, mereka akan merasakan dampak negatif dari lockdown, juga perusahaan-perusahaan besar,” urai Pieter sebagaimana dikutip dari CNBCIndonesia.Com (18/3/2020).

Pieter menanggapi positif himbauan sosial distancing sebagai suatu langkah pencegahan. Akan tetapi, opsi tersebut tidak didukung kedisiplinan masyarakat Indonesia yang dinilai rendah. Italia sama dengan Indonesia, tingkat kesadaran penduduknya juga lemah, sehingga opsi lockdown terpaksa diambil sebagai kebijakan darurat.

“Yang harus dipertimbangkan harus cepat membuka opsi lockdown, dan mempersiapkan secara matang, mempersiapkan bukan berarti memilih,” ucapnya.

Dia menambahkan bahwa, biar bagaimanapun pemerintah harus mempersiapkan opsi lockdown sebagai suatu pilihan, karena kalau sudah dipersiapkan dengan matang, pemerintah dan rakyat sudah memiliki kesiapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.

Mempersiapkan opsi lockdown sejak dini, harus dilakukan segera agar nantinya tidak menambah buruk keadaan disaat opsi tersebut harus ambil secara darurat dan dadakan.

“Saya melihat dari sisi ekonomi. jangan tutup opsi lockdown, justru ini sebagai opsi skenario terburuk. Skenario terburuk harus disiapkan, agar skenario terburuk tak menyebabkan dampak terburuk,” katanya.

Dari segi ekonomi, Menurut Pieter Wuhan bisa menjadi contoh, dampak kelumpuhan ekonomi akibat lockdown sudah direncanakan, periodenya sudah dibatasi,  dan dampaknya sudah diukur, sehingga lebih mudah untuk dipulihkan.

“Wuhan di-lockdown belum sampai tahap parah, periode dibatasi, dalam dua bulan bisa pulih,” tutupnya.

Sumber: CNBC Indonesia
Editor: Bahrur Rozy

Pos terkait