Airlangga Hartarto: PHK Covid-19 Berpotensi Tingkatkan Angka Kemiskinan

Airlangga Hartarto
Ketum Golkar Airlangga Hartarto (Luqman Nurhadi A/detikcom)

IDTODAY.CO – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi Indonesia akan masuk jurang resesi. Pasalnya, perekonomian Indonesia akan tetap mengalami pertumbuhan negatif pada triwulan III-2020 .

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga saat menyampaikan pidato kunci dalam Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) secara virtual, Rabu (12/8/2020).

Bacaan Lainnya

“Ekonomi Indonesia pada triwulan III-2020 diproyeksikan -1 persen, kemudian di triwulan IV-2020 mulai positif hingga 1,38 persen, sehingga secara total pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 akan -0,49 persen persen,” terangnya.

Akan tetapi, Airlangga menegaskan perekonomian masih sedikit lebih baik daripada yang terjadi di negara lainnya. Misalnya saja pada triwulan I-2020, Indonesia masuk dalam sedikit negara yang tetap mengalami pertumbuhan positif.

“Di triwulan II-2020, negara lain turun lebih dalam, seperti di Eurozone -15 persen, Inggris -19 persen, Jerman -11 persen, Prancis -19 persen, Jepang -8,8 persen, kemudian India –18%. Jadi kalau kita lihat di negara yang melaksanakan lockdown relatif ekonominya terdampak lebih dalam,” ucap Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga menegaskan bahwa dampak covid 19 terhadap perekonomian dalam bentuk banyaknya kasus PHK dan pekerja yang dirumahkan akan berdampak pada peningkatan angka kemiskinan di masa yang akan datang.

“Data dari Kemnaker sudah naik jadi 2,1 juta (pekerja yang di-PHK dan dirumahkan). Kita melihat tingkat kemiskinan naik dari 9,41 persen pada Maret 2019 menjadi 9,78 persen pada Maret 2020,” terang Airlangga.

Akan tetapi, Airlangga meyakini perekonomian akan semakin membaik seiring kembali dibukanya aktivitas ekonomi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Aktivitas ekonomi sudah mulai meningkat. Aktivitas industri manufaktur di Indonesia pada awal semester II-2020 juga mulai kembali bergeliat. Ini terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang pada bulan Juli 2020 berada di level 46,9, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 39,1,” urainya

“Meskipun beberapa indikator masih lemah, namun indikator PMI manufaktur pada Juli 2020 dan penjualan semen, indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, dan penjualan mobil sudah mulai bergerak naik,” pungkas Airlangga

Untuk diketahui, pada triwulan I-2020, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 2,97 persen, namun pada triwulan II terkontraksi hingga -5,32 persen.[brz/nu]

Pos terkait