Banyak Penerima Bansos Salah Sasaran, Istana Akui Gunakan Data 2015

Banyak Penerima Bansos Salah Sasaran
Warga memberikan data kepada petugas untuk mendapatkan Bantuan Sosial Tunai (BST) di Kantor Pos, Bogor, Jawa Barat, Rabu, 13 Mei 2020. ( Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden / Lukas )

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Donny Gahral Adian mengakui data yang digunakan untuk penyaluran bantuan sosial (bansos) adalah data tahun 2015. Hal ini mengakibatkan banyak ditemukan penyaluran bansos yang tidak tepat sasaran atau diterima oleh warga yang tidak miskin dan tidak terdampak pandemi virus corona atau Covid-19. Bahkan ada warga yang sudah meninggal tercatat sebagai penerima bansos tunai.

“Memang banyak sekali kejadian di lapangan bansos itu salah sasaran. Karena data yang dipakai data 2015 ada yang sudah meninggal ada yang sudah tidak di domisili,” kata Donny Gahral, Jumat (15/5/2020).

Bacaan Lainnya

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Donny Gahral meminta pemerintah daerah (Pemda) memperbarui dan memperbaiki data masyarakat pemerintah bansos, sehingga penyaluran bansos dapat tepat sasaran.

“Ini harus segera diperbaiki karena kita tidak boleh salah sasaran. Kita harus berikan kepada yang berhak,” ujar Donny Gahral.

Untuk perbarui dan perbaikan data warga penerima bansos, Donny Gahral meminta Dinas Sosial (Dinsos) di daerah agar melibatkan pengurus RT dan RW bekerja sama dengan Camat dalam melakukan pendataan kembali.

Seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, yang memberdayakan RT dan RW untuk melakukan pendataan warga penerima bansos.

“Dinsos itu harus turun ke bawah atau memberdayakan RT RW lurah camat supaya data itu diperbaiki. Seperti Kabupaten Banyuwangi bagus sekali data Bansos dibuka ke publik itu, publik bisa lihat itu, ‘oh nama saya, ini kok data orang miskin nggak masuk,’ tinggal diperiksa secara terbuka oleh masyarakat. Saya kira itu langkah yang baik. Jadi tidak hanya disimpan aparat pemerintah di bawah,” jelas Donny Gahral.

Sumber: beritasatu.com

Pos terkait