Habib Rizieq Syihab
Habib Rizieq Syihab di pesawat. (Dok. Screenshot YouTube Front TV)

Epidemiolog Ingatkan Pentingnya HRS Diswab: Kalau Positif Harus Ada Contact Tracking

IDTODAY.CO – Kondisi kesehatan Habib Rizieq Syihab (HRS) selepas acara yang menimbulkan kerumunan di kawasan Petamburan, Jakarta, hingga Megamendung, Bogor, menjadi sorotan. Pakar Epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad menyoroti pentingnya Habib Rizieq melakukan tes web.

Tak hanya itu, hasil tes swab habib Rizieq harus diketahui publik. Sebab, jika hasil tes menyatakan positif perlu dilakukan contact tracing COVID-19.

“Yang diperlukan adalah seandainya sudah swab, perlu tahu hasilnya apa. Kalau terbukti swab, hasilnya positif atau negatif. Kalau negatif, ya berhenti di situ. Kalau positif kan harus ada contact tracing. Nah itu yang harus dilakukan, kenapa pemeriksaan swab itu harus dilakukan pada Rizieq Syihab,” kata Riris saat dihubungi, Selasa (24/11). Sebagaimana dikutip dari detik.com (24/11/2020).

Riris enggan berspekulasi mengenai apakah Habib Rizieq terpapar Covid-19. Namun, ia menilai Habib Rizieq memang beresiko terpapar COVID-19.

“Cuma kalau berisiko, iya,” tuturnya.

Riris juga menyoroti soal sikap para laskar FPI yang menjaga ketat kawasan gang rumah Habib Rizieq saat hendak dilakukan penyemprotan disinfektan. Menurutnya, setiap orang yang berusaha menghalangi usaha pengendalian wabah dapat dikenakan sanksi pidana.

“Kalau orang itu menghalangi usaha pengendalian wabah itu ada bisa dipidanakan. Kan ada UU-nya,” ucapnya.

Adapun terkait penyemprotan disinfektan di jalanan, Riris menilai, hal itu tidak memiliki manfaat signifikan. Menurutnya, seharusnya pemerintah melakukan tindakan tracing dan isolasi terhadap orang yang berpotensi terpapar COVID-19.

Baca Juga:  DPR Kecewa, Merasa Tak Dilibatkan dalam Pembatalan Haji 2020

“Tapi kemudian tadi yang saya juga pertanyakan, bahwa penyemprotan itu apa signifikan untuk mengendalikan penularan di situ? Kedua, tidak ada manfaatnya dengan penyemprotan di gang-gang misalnya,” katanya.

“Ya diisolasi. Kalau ada kasus, diisolasi. Tergantung, intervensinya itu tergantung pada situasinya. Secara umum kalau ada kasus positifnya diisolasi. Kontaknya kalau ketemu, di-tracing,” sambung Riris.[detik/aks/nu]

Tulis Komentar Anda di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.