Masjid Tertua di Bumi Majapahit, Pusat Perlawanan Terhadap Penjajah Kolonial

  • Whatsapp
Masjid Tertua di Bumi Majapahit, Pusat Perlawanan Terhadap Penjajah Kolonial
Jamaah menunaikan salat di bangunan baru Masjid Darussalam Mojokerto yang dibangun menggantikan masjid lama berjarak sekitar 15 meter. Foto/SINDOnews/Tritus Julan

IDTODAY.CO – Bumi Majapahit sebagai salah satu tempat sakral berdirinya sebuah kerajaan fenomenal menjadi tempat berdirinya salah satu bangunan kuno penuh sejarah dalam upaya perjuangan melawan penjajahan kolonial.

Bangunan tersebut bernama masjid Darussalam, yang berdiri tegak di Jalan Raya Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto , Jawa Timur itu dibangun pada era penjajahan kolonial Belanda tahun 1893.

Bacaan Lainnya
Baca Juga:  Ditangkap Lagi, Habib Bahar: Demi Allah, Saya Tidak Akan Kapok Melawan Kezaliman Penguasa

Masjid Darussalam , merupakan salah satu masjid tertua di Bumi Majapahit. Saat ini masih tersebut telah berusia 128 tahun yang dibangun oleh Bupati Mojokerto pertama Kromodjojo Adinegoro III.

Baca Juga: Unik, Air Zamzam Tak Pernah Kering Selama 40 Abad, Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Keterangan tersebut sesuai dengan yang terdapat dalam prasasti pembangunan yang terpasang di dalam masjid. Meski telah usang, namun hingga kini prasasti masih terus melekat di dinding masjid.

Baca Juga:  Update Corona di RI 14 Juni: Positif 38.277, Sembuh 14.531, Meninggal 2.134

Dalam prasasti itu disebutkan, peletakan batu pertama dilakukan sang bupati tanggal 15 Januari tahun 1893.

Konon, bupati yang memiliki nama kecil Raden Ersadan itu memang terkenal dengan kebijaksanaannya. Selain itu ia juga disebut-sebut seorang pribadi yang religius.

“Masjid ini memang dibangun oleh Bupati Mojokerto pertama, Kromodjojo Adinegoro III. Pembangunannya menggunakan uang pribadi beliau, ceritanya seperti itu,” kata Takmir Masjid Darussalam, H Mansyur Thohir, sebagaimana dikutip dari Sindonews.com, Kamis (22/4/2021).

Baca Juga:  Jokowi Sebut Perekonomian Indonesia Kini Lebih Berat Dibanding 1998

Tak hanya sebagai tempat ibadah, Masjid Darussalam merupakan saksi bisu perjuangan para panji-panji Islam saat melawan penjajah. Di tempat ini, dulu acap kali digunakan untuk berkumpul para kiai untuk mengatur strategi melawan penjajah Belanda. Baik sebelum perang kemerdekaan maupun sesudahnya.

“Dulunya di sini juga sebagai kantor KUA (Kantor Urusan Agama) juga. Disebelah masjid itu ada gedungnya dulu,” imbuh Mansyur sembari menunjukan kondisi dalam Dasjid Darussalam yang kini difungsikan sebagai tempat belajar mengaji anak-anak.

Baca Juga:  Soal Demo PA 212 dan FPI, PBNU: Hati-hati Dengan Orang Yang Memperalat Agama Untuk Kepentingan Politik Eksklusif

Baca Juga: Unik, Air Zamzam Tak Pernah Kering Selama 40 Abad, Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Mansyur mengungkapkan, bangunan Masjid Darussalam ini sudah dua kali mengalami renovasi. Pertama ditahun 1990. Renovasi menyentuh pintu, lantai, teras masjid dan ruangan jemaah putri. Awal pembangunan, pintu menggunakan kayu model persegi panjang dengan dua daun.

Lima pintu itu terletak di depan tiga unit, sementara dua lainnya terletak di samping kanan dan kiri sebagai akses jemaah menuju ke tempat wudlu. Sementara teras masjid dulunya hanya selebar 2 meter, kemudian diperluas. Sementara untuk bagian yang lain dibiarkan seperti apa adanya.

Baca Juga:  Soal Kerumunan di CFD, Menko PMK Minta Evaluasi Kendala Pelaksanaan Protokol Kesehatan

“Tapi sekarang sudah tidak difungsikan untuk bangunan yang lama. Karena sekarang sudah dipindah ke bangunan baru yang di depan itu. Bangunan ini hanya digunakan untuk kegiatan TPQ saja,” urai Mansyur.

Masjid tersebut memang tidak lagi di fungsikan seperti dahulu. Akan tetapi bangunannya masih sangat kokoh dan berdiri tegak sempurna.

Empat pilar utama yang terbuat dari batang pohon jati utuh masih kuat menopang bangunan utama masjid dan joglo tempat azan. Ditambah lagi mimbar khotbah, serta tempat azan di lantai dua, yang masih terlihat baik.

Baca Juga:  Kemenaker Akui Tak Bisa Tolak legalitas 500 TKA China Di Sultra

Demikian juga dengan tempat wudhu yang terletak di sisi Selatan masjid. Bentuknya persegi enam dengan bak air berbentuk persegi 8 terlihat masih sangat terawat dan layak pakai.

Sayangnya semua bangunan yang terletak di tempat tersebut sudah tidak lagi difungsikan karena telah beralih ke bangunan masjid baru yang berjarak sekitar 15 meter dari tempat semula.

“Rencananya memang akan dibongkar semua nantinya. Namun ada sebagian yang akan tetap ditinggalkan. Termasuk bangunan soko guru ini nantinya akan dibuat sebagai gapura masuk, sehingga tidak menghilangkan nilai sejarahnya,” pungkas Mansyur.

Baca Juga:  Demi Kemanusiaan Jokowi Harus Kontak Langsung Macron

Baca Juga: Bikin Heboh, Curhatan Perawat Diajak Nikah Pasien Setelah Pasang Keteter

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.