Mengapa Angka Kematian Akiibat Covid-19 Begitu Tinggi Di Indonesia?

Ilustrasi- Petugas medis membawa seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terduga COVID-19
Ilustrasi- Petugas medis membawa seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terduga COVID-19 (Foto: ANTARA/Septianda Perdana)

IDTODAY.CO – Pemerintah telah memperbaharui data tentang kasus virus Corona. Diketahui pada senin (23/03/2020) kasus positif Corona di Indonesia sebanyak 579 dan yang dinyatakan meninggal dunia sebanyak 49 orang.

Berdasarkan persentase banyak orang yang menyebutkan bahwa kematian yang terjadi di Indonesia akibat virus Corona sangat tinggi. Banyak juga yang bertanya mengapa angka kematian akibat Covid-19 begitu tinggi di Indonesia? Sampai 8 persen?’.

Bacaan Lainnya

Dalam sebuah wawancara di televisi, spesialis epidemiologi dr. dr. Dicky Budiman mengatakan bahwa angka kematian ini memiliki banyak faktor yang mempengaruhi.

“Ada banyak orang yang menganggap bahwa angka ini ketinggian atau masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Yang perlu dipahami bahwa pada fase awal dari setiap pandemi atau epidemi tentu angka kematian itu selalu tinggi,” ujar Dicky. Sebagaimana dikutip dari Rmol.id (24/03/2020).

Mengapa selalu tinggi?

“Karena tentu belum banyak angka kasus temuan dari pasien atau tersangka yang kita testing. Dan untuk case fatality rate sendiri banyak faktor yang berpengaruh pada angka ini,” jelas Dicky.

Faktor yang mempengaruhi itu di antaranya adalah variasi dari jumlah kasus terdeteksi. Lewat tes ini, hasilnya  akan berbeda antar negara.

 “Lalu faktor seleksi bios. Seleksi bios ini terjadi misalnya ketika dilakukan tes memang orang itu sudah dalam keadaan resiko  tertentu, akhirnya angka tesnya akan positif dan dia ternyata dalam kondisi atau status yang berat sehingga menyebabkan kematian.”

Dicky mencontohkan seperti halnya Italia, CFR (case fatality rate) yang tinggi itu karena adanya AMR atau antimicrobial Resistance, di mana Italia merupakan salah satu negara tertinggi di Eropa untuk angka Antimicrobial Resistance.

“Yang menyebabkan sepertiga kematian di Italia karena ini, jadi ada banyak faktor dalam hal ini,” tegas Dicky.

Yang menjadi tolak ukur yang sangat penting untuk satu  epedemi adalah testing. Dengan adanya testing yang banyak inilah akhirnya akan menentukan lebih dekat atas kondisi realita yang terjadi.

“Jadi sekali lagi kalau saya sampaikan secara teori untuk fatality rate ini, banyak faktor berpengaruh. Lalu, ini yang sangat mempengaruhi, yaitu jumlah tes. Jumlah tes yang dilakukan oleh suatu negara, semakin sedikit ya semakin besar juga nanti angka CFR-nya. Tapi ketika dia semakin banyak seperti kasus testing yang dilakukan di Korea, itu akan semakin kita mendapat gambaran yang utuh,” jelas Dicky.

Oleh karena itu semakin banyak estimasi dalam nilai atau angka, sesungguhnya dalam satu populasi untuk menilai status infeksi akan lebih nyata.(Rmol/aksy)

Pos terkait