Pakar ilmu politik: Dari Dulu Persoalan Pancasila itu Adalah Soal Penafsiran

Pakar ilmu politik: Dari Dulu Persoalan Pancasila itu Adalah Soal Penafsiran
Guru Besar Universitas Pertahanan, Prof Salim Said/Repro

IDTODAY NEWS – Pernyataan anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar, Maman Abdurrahman terkait pemerintah sudah mengerjakan semua hal yang dikritik oleh sejumlah kalangan masyarakat, mendapat sorotan Guru besar ilmu politik Universitas Pertananan Profesor Salim Said.

Menurutnya, kritik tersebut tergantung dari sudut mana masyarakat menafsirkan, apakah Jokowi sudah mengerjakan ataukah belum?

Bacaan Lainnya

Pernyataan tersebut disampaikan profesor Salim said di acara Indonesia Lawyer Club, Rabu dini hari (19/8).

“Masalah di sini adalah penafsiran, apa yang dikerjakan pemerintah, dan bagaimana penafsiran orang terhadap yang dilakukan pemerintah, sebab pemerintah itu bertindak mengikut undang-undang, ini permintaannya saudara Refly, tapi tafsirannya gimana?” tegas Salim sebagaimana dikutip dari RMOL.

Dia kemudian menyinggung perihal Pancasila yang memiliki penafsiran lain dari orang yang memandangnya.

Menurut Pakar militer senior ini, hal tersebut dinilai wajar adanya perbedaan pendapat karena disebabkan oleh cara pandang yang berbeda-beda

“Persoalan kita dengan Pancasila itu, kan dari dulu adalah tafsiran. Yang akhirnya, adalah mengarah kepada aku lebih Pancasilais dari you! Kalau ada masalah aku tangkap you, karena tafsiran Pancasila you berbahaya. Itu konsekuensi dari soal tafsiran, kalau kita enggak hati-hati maka kita akan jatuh,” urainya.

Salim dan jajanannya aku tidak sependapat dengan pernyataan Jokowi waktu mengkampanyekan “saya Pancasila”. Pasalnya, Salim said menilai Pancasila merupakan persoalan bangsa Indonesia bukan sekedar persoalan individu.

“Karena itu saya dulu menulis menilai apa namanya ucapan Pak Jokowi yang mengatakan saya Pancasila. Saya bilang, Pancasila itu bukan soal pribadi, unit politiknya Pancasila itu masyarakat,” terangnya.

“Saya Pancasilais, tapi kalau saya mencuri, saya korupsi, gimana? jadi Pancasila itu tidak bisa diklaim satu orang itu adalah sesuatu yang untuk publik. Kalau publiknya tidak Pancasilais, seratus menteri Pancasilais, ya tidak ada apa-apa kira-kira seperti itu,” pungkasnya.[rmol/brz/nu]

Pos terkait