Pengamat Bilang Kesimpulan Survei LSI Denny JA Berbahaya

  • Whatsapp
Peneliti LSI Denny JA
Foto: Peneliti LSI Denny JA, Ikrama (kanan, dok. istimewa)

Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, meragukan kesimpulan hasil survei LSI Denny JA yang menyebut lima wilayah sudah boleh melakukan aktivitas ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

“Itu kesimpulan yang terlalu dini dan sangat berbahaya,” kata Ubedilah dalam siaran tertulisnya, Ahad, 17 Mei 2020.

Bacaan Lainnya
Baca Juga:  Soroti Baku Pukul Sesama Polisi, IPW: Akibat Buruknya Kordinasi

Lima daerah yang dimaksud LSI Denny JA adalah DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor, dan Provinsi Bali. Menurut survei, aktivitas ekonomi di daerah tersebut bisa kembali dibuka pada Juni 2020.

Menurut Ubedilah, lima daerah tersebut faktanya masih fluktuatif dan berpotensi munculnya kasus baru Covid-19. Di DKI Jakarta, misalnya, ada 116 kasus positif baru berdasarkan data uji PCR oleh Dinas Kesehatan DKI terhadap 1.065 orang pada 15 Mei lalu.

Baca Juga:  Pemerintah Sibuk Lindungi TKA China, Tapi Abai Terhadap TKI Sendiri

“Tentu positif Covid-19 dengan jumlah lebih dari 100 dari 1.065 orang bukanlah jumlah yang biasa,” ujarnya.

Ubedilah juga menilai, LSI Denny JA tidak merujuk laporan mutakhir di Kabupaten Bogor. Per 15 Mei 2020, kata Ubedilah, zona merah Covid-19 di sana justru bertambah. Berdasarkan laporan Gugus Tugas Kabupaten Bogor, ada 20 kecamatan di Kabupaten Bogor yang masuk zona merah.

Baca Juga:  MUI Sampaikan 3 Saran untuk Umat Islam dan Pemerintah Soal Idul Adha 2020 di Tengah Pandemi

Ubedilah menyebutkan argumen lain LSI Denny JA yang menyesatkan adalah menyarankan pelonggaran aktivitas di tengah pandemi Covid-19, dan merujuk pada negara-negara dengan fiskal kuat, seperti Korea Selatan dan Selandia Baru yang mulai mengendurkan lockdown.

Ubedilah menilai, LSI tidak cermat bahwa teknologi kesehatan dan disiplin warga di kedua negara tersebut jauh lebih baik dibanding Indonesia. Sehingga, kedua negara tersebut berani mengambil keputusan cepat untuk melakukan pelonggaran. “Sementara Indonesia sarana teknologi kesehatan dan disiplin masyarakatnya masih rendah,” kata dia.

Baca Juga:  Ingatkan Mendikbud, PBNU: Kami Ada Sebelum Indonesia Merdeka

Ubedilah juga mengkritisi basis data LSI Denny JA yang menggunakan data sekunder dan metode kualitatif. Jika dicermati, kata dia, metode analisis kualitatifnya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah riset kualitatif yang sebenarnya. “Saya menilai ini bias konfirmasi.”

Seharusnya, kata Ubedilah, LSI Denny JA melakukan pendalaman analisis dengan sumber primer. Misalnya, dengan virolog (ahli virus), ahli epidemiologi atau ahli medis yang berkaitan dengan penyebaran virus. Kemudian melakukan survei lapangan langsung yang komprehensif. “Ini kesannya terburu-buru mengejar target,” ujar dosen UNJ ini.

Baca Juga:  Natalius Pigai: Sebagai Pejabat Negara, Pak Luhut Tak Punya HAM

Sumber: tempo.co

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.