Pengamat Sebut Kecenderungan Paslon Kumpulkan Massa Dapat Hambat Demokrasi Siber

Pengamat Sebut Kecenderungan Paslon Kumpulkan Massa Dapat Hambat Demokrasi Siber
Analis politik Exposit Strategic Arif Susanto,(Foto: ANTARA/Boyke Ledy Watra)

IDTODAY.CO – Analis Politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto ikut menyoroti polemik terkait pelaksanaan Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2020 dilakukan di tengah penyebaran wabah virus corona atau Covid-19.

Menurutnya, sisi positif dari pelaksanaan Pilkada di tengah pandemi pendapat mendorong pembangunan demokrasi siber. Yakni sama dengan melakukan kan manfaat dan teknologi dan jaringan internet dari semua proses Pilkada.

Bacaan Lainnya

“Pandemi Covid-19 memaksa semua orang membatasi aktivitas tatap muka. Ini sesungguhnya menyediakan momentum untuk mendorong perwujudan demokrasi siber,” kata Arif di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Beritasatu.com, Selasa (6/10/2020).

Arif menegaskan bahwa demokrasi liberal dapat berperan penting dalam proses politik demokratis. Yakni dengan anne-marie lakukan kampanye dan diskusi publik secara interaktif dan kreatif melalui jaringan internet.

Akan tetapi, terbatasnya infrastruktur internet akan menjadi salah satu faktor penghalang dalam upaya membangun demokrasi siber. termasuk juga minimnya literasi politik masyarakat dan ketimpangan akses akan turut mempengaruhi.

Bahkan, kecenderungan paslon untuk mengumpulkan massa sebagai bentuk unjuk kegiatan masih merupakan PR yang harus diatasi. Akan tetapi, Arif yakin demokrasi cyber untuk Pilkada 2020 akan bisa berjalan efektif dan tepat sasaran.

“Demokrasi siber menuntut tidak sekadar perluasan akses teknologi informasi dan partisipasi politik. Demokrasi siber mengandaikan antisipasi terhadap dampak negatif. Penyebaran kabar bohong dan bentuk-bentuk kejahatan siber, misalnya, dapat menjadi ancaman. Namun, semua itu memungkinkan identifikasi komputasional yang lebih presisi atas kecenderungan pemilih”, terangnya.

Lebih lanjut, harus meminta para paslon untuk optimis dalam melihat demokrasi cyber sebagai bentuk membangun kampanye model baru yang lebih unik dan juga sebagai upaya untuk membangun kecerdasan politik bagi para pemilih.

“Upaya bersama perlu dijalankan lebih progresif demi mentransformasikan Pilkada sebagai bagian pembangunan demokrasi siber,” pungkasnya.[beritasatu/brz/nu]

Pos terkait