The New Normal Adalah Mission Impossible Yang Kepalang Tanggung

Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa). (Foto: Investor Daily/Gora Kunjana)

IDTODAY.CO – Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, menyebut upaya pemberantasan virus corona baru atau Covid-19 dengan protokol new normal sebagai mission impossible yang kepalang tanggung.

“Yang menjadi kegundahan adalah, sekalipun Covid-19 masih menjadi pandemi, tim mission impossible ini tetap harus dapat mengantarkan masyarakat ke dalam tatanan kehidupan baru,” kata Putut sebagaimana dikutip dari Rmol.id (28/5/2020).

Bagi Putut Prabantoro, misi ini sangat berat, jika tidak dapat dikatakan mustahil karena Indonesia harus menyelesaikan permasalahannya sendiri termasuk mandiri dalam segala hal.

Putut mengatakan, upaya penanggulangan Corona merupakan misi impossible yang harus bisa diselesaikan di tengah perangkap desentralisasi global yang memaksa semua negara termasuk Indonesia harus fokus pada persoalan domestik.

Baca Juga:  Terbitkan Instruksi Jihad Qital, Anak NKRI SerIukan Ganyang Komunis

Setidaknya, terdapat 68 negara yang sedang disibukkan dalam upaya penanggulangan virus ganas tersebut dan sama-sama belum bisa memastikan kapan virus tersebut bisa dimusnahkan.

“Karena orang harus hidup, sementara Covid-19 belum ada penawarnya, setiap negara yang terdampak menyiapkan protokol new normal untuk mengantarkan masyarakatnya ke tatanan kehidupan baru. Indonesia tidak terkecuali,” terangnya.

“Indonesia harus segera membangun kembali seluruh sendi kehidupan yang terdampak Covid-19 termasuk ekonomi dan sosial meski kondisinya sudah tidak sama,” lanjutnya.  

Ia mengatakan, new normal menjadi Habitus baru yang menyangkut cara baru untuk hidup termasuk berpikir, berkomunikasi, berperilaku dan bertindak. Oleh karena itu, new normal harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk mewujudkan The New Indonesia yakni negara yang mandiri dan bebas dari ketergantungan.

Baca Juga:  Mestinya Tiru SBY, Jokowi Harus Jaga Moral Legislasi

Melalui new normal ini, habitus baru Indonesia harus berujung pada terwujudnya ketahanan nasional yang dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk ipoleksosbudhankam, demografi, geografi dan manusianya.

“Meskipun dianggap mustahil atau impossible, sebenarnya sudah kepalang tanggung. Karena desentralisasi global terbentuk, seharusnya new normal atau habitus baru Indonesia berakhir pada terwujudnya The New Indonesia yakni negara Indonesia yang mandiri dan kuat,” terangnya.

Putut kemudian menyamakan kebijakannya normal dengan tag line Ghost Protocol yakni, “No Plan, No Back-Up dan No Guide”.

Tag Line tersebut mengingatkannya bagaimana seorang Soekarno mampu menjalankan mission impossible dalam menjalankan pemerintahan pasca kekalahan Jepang atas sekutu setelah pemboman Hirosima dan Nagasaki yang jadi momentum kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga:  Rata-rata Biaya Bisa Menang di Pilkada 65 M, KPK: Rata-rata Kekayaan Paslon Rp 18 M

Tidak ada satu rencana, tidak ada dukungan kekuatan dari negara besar ataupun petunjuk menjalankan sebuah negara yang baru merdeka, ketika Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

“Meskipun disebut mustahil, impossible, tidak mungkin, atau tidak pasti, habitus baru atau new normal tetap harus dijalankan jika ingin hidup,” ucapnya.

Putut menegaskan, upaya pemberantasan Corona akan menjadi mission impossible apabila hanya dibebankan kepada pemerintah dan masyarakat terus bersikap terserah.

“Ini momentum bangsa Indonesia. Masyarakat dan pemerintah harus menjadi tim mission impossible,” pungkas Putut Prabantoro.[Brz]