Berbuka Puasa Bersama Kedubes China? Penghianatan Di Bulan Ramadhan!

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia mengadakan silaturrahmi via daring dan berbuka bersama.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia mengadakan silaturrahmi via daring dan berbuka bersama. Dok. PBNU/Detikcom

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam/Dosen dan Pengamat Politik

Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kedutaan Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia mengadakan melakukan silaturrahmi dengan buka puasa bersama. Tahun ini merupakan buka puasa bersama untuk kelima kalinya. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini buka puasa berlangsung secara daring. Kedua berada di tempat berbeda, Said Aqil berada di Gedung PBNU, sementara Xio Qian di kantornya.

Bacaan Lainnya

Menurut Kiai Said, PBNU menjalin hubungan kerja sama dengan China karena dalam sejarah, kedua negaratelah melakukan kerja sama sejak lama. Bahkan sejak berabad-abad lalu. Said Aqil menambahkan bahwa hubungan yang dijalin dengan China tidak berbau politik tetapi budaya, peradaban, ilmu pengetahuan dan agama mengingat legenda muslim Cheng Ho yang datang ke Nusantara dalam syiar Islam dan membangun mesjid. (gelora.com. 03/05/2020)

Kelihatannya hubungan China dengan pengurus PBNU Said Aqil sangat akrab.  Biasanya yang melakukan acara buka bareng adalah seseorang dengan orang-orang terdekatnya. Dan kedekatan antara pemerintah China dengan Said Aqil atas nama PBNU tersebut  sangat menonjol. Kenapa Said Aqil atas nama PBNU sangat bangga menjalin hubungan dengan pemerintah China? Apa yang telah China berikan dan janjikan kepadanya selaku ketua organisasi muslim yang paling besar di negeri ini?

Giveaway Pemerintah China Kepada PBNU Melalui Said Aqil

Dilansir dari sumber berita Gelora.com,  Kiai Said menyebutkan bahwa PBNU dan China telah membangun kerja sama dalam berbagai bidang, yaitu pendidikan dengan beasiswa untuk para santri, membangun MCK di beberapa pesantren di Jawa dan Banten, serta mobil ambulans.

Pada situasi pandemik, China membantu PBNU sebanyak 300 alat pelindung diri (APD), 1.920 alat rapid test, 16.000 masker. Serta 1000 paket sembako.  Duta Besar Tiongkok Xiao Qian mengatakan, bahwa Indonesia yang dipimpin Presiden Joko Widodo bersama Nahdlaltul Ulama yang dipimpin Said Aqil Siroj akan mampu mengatasi pandemik covid-19.

Bahkan Kedubes China juga berjanji jika pandemik corona berlalu, dia akan mengajak kembali pengurus PBNU untuk berkeliling ke beberapa provinsi di China. Kedubes China  juga menyinggung bahwa China dan Indonesia memiliki banyak kesamaan yang pertama multi agama dan budaya, termasuk agama Islam yang dijamin kebebasannya di China.

Jelas sekali terlihat begitu banyak giveaway yang diberikan pemerintah China melalui Kedubesnya untuk PBNU terlebih para pengurusnya. Lihat saja janji visiting keliling negeri tirai bambu itu diberikan kepada para pengurus PBNU. Siapa sih yang tidak suka dibawa traveling apalagi dengan cost free bermodalkan badan saja? Siapapun pasti tergiur. Wong gratis akomodasi to?

Akan tetapi, satu hal yang wajib diingat dan dicatat dalam benak kaum muslimin, bahwa apapun giveaway yang diberikan oleh para kaum kapitalis baik Barat maupun Timur selalu menyimpan kepentingan. Tetap harus dipahami bahwa semboyan ” no free lunch” adalah Haq bagi mereka. Jadi, seharusnya jangan merasa bangga dengan semua giveaway yang diberikan. Karena pola pikir kalkulasi kapitalis selalu harus meraih keuntungan dari modal yang dikeluarkan. Dan yang tidak kalah penting, harus lebih besar imbalan yang didapat.

Pertanyaannya, apa yang diinginkan pemerintah China memberikan semua itu kepada Kyai Said Aqil sebagai perwakilan PBNU? Tentu saja pihak pemberi hadiah sudah tahu peluang keuntungan yang akan diperoleh kedepannya.

Penghianatan Terhadap Ummat , Menodai Kesucian Ramadhan.

Said Aqil mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun kelima hubungan yang dirajut antara PBNU dengan Pemerintah China yang dalam hal ini diwakili oleh Kedubes China untuk Indonesia. Kedekatan dan keharmonisan itu semakin terlihat saat urusan ibadah pun harus dicampuradukkan. Berpuasa adalah ibadah bagi kaum muslimin, dan berbuka juga bagian dari ibadah. Maka, tidak seharusnya antara keyakinan yang berbeda saling mencampuri atau memaksa seseorang untuk mengikuti ritual ibadah keyakinannya.

Kegiatan buka bersama yang dilakukan oleh kedua belah pihak seyogyanya tidak perlu terjadi. Sebab, selain sebagai non muslim, pemerintah China juga adalah musuh bagi kaum muslimin. Dunia juga mengetahui dengan jelas bahwa pemerintah China telah membangun camps isolasi bagi warga muslim Uyghur Di Xinjiang. Memaksa mereka meminum khamr, memisahkan anak-anaknya dan mengawinkan para muslimah dengan pemuda atheis China. Bahkan para wanita muslim juga dipaksa tidur dengan lelaki China yang atheis. La hawla wala quwwata Illa billah.

Merajut hubungan, keakraban, dan kemesraan yang dilakukan oleh Siad Aqil sebagai perwakilan PBNU dengan pemerintah China telah menodai kehormatan kaum muslimin. Melakukan buka puasa bersama dengan mereka adalah bentuk penghianatan terhadap ummat Islam khususnya muslim Uyghur. Dan hal tersebut juga berarti telah menodai kesucian Ramadhan.

Sebagai petinggi dan juga pengurus ormas Islam terbesar di Indonesia, negeri mayoritas muslim di dunia tidak halal merajut hubungan dengan para musuh agama Allah. Karena apa yang mereka ucapkan seperti madu yang pada hakikatnya adalah racun. Kerjasama dan bantuan adalah kedok penjajahan berbentuk soft. Mereka hanya ingin menarik simpatik ummat Islam di Indonesia agar menjadi towa menyampaikan kepada dunia bahwa pemerintah China sangat toleran terhadap Islam.

Berikutnya, pemerintah China juga sangat bernafsu menguasai tanah dan bangsa ini. Terbukti dengan kerjasama infrastruktur dan disandera dengan utang. Mayoritas rakyat Indonesia khususnya ummat Islam sangat membenci pemerintah China dan kearogansiannya. Tidak jauh berbeda dengan induk kapitalisme, Amerika. Tentu pemerintah China sangat membutuhkan dukungan yang besar untuk menancapkan penjajahannya di Indonesia. Dan mendekati ormas Islam terbesar seperti PBNU melalui pengurus- pengurusnya adalah cara yang paling masuk akal ditempuh meraih tujuan mereka.

Seharusnya Said Aqil menyadari semua hal tersebut dan memutuskan hubungan serta kerjasama apapun yang telah dijalin dengan Pemerintah China. Ummat Islam tidak akan mendapatkan apapun dengan kerjasama itu kecuali kerugian yang besar baik dunia maupun di akhirat kelak. Terlebih seperti kata Said kerjasama bidang agama. Agama mana yang dimaksud Siad Aqil? Bukankah negara China adalah atheis? Said sepertinya sedang mabuk janji oleh pemerintah China.

Jika alasannya adalah karena sosok Laksamana Cheng Ho, maka titik fokusnya berbeda. Laksamana Cheng Ho berlayar menyampaikan Islam sebagai muslim bukan sebagai warga nasionalis apalagi komunisnya China. Said Aqil tentu memahami sejarahnya dan harusnya bisa memisahkannya. Janganlah karena kepentingan pribadi dan keuntungan duniawi sesaat membutakan keimanan dan menghianati Allah dan RasulNya.

Meskipun Said Aqil mencoba mengklarifikasi bahwa kerjasama yang dirajut bukan urusan politik, namun hal tersebut mustahil tidak terjadi. Segala perbuatan yang dilakukan manusia berdasarkan sudut pandang pemikirannya dinamakan politik. Maka, bagian kerjasama mana yang bisa dipisahkan dari rencana politik?

Semoga bulan Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir yang disuguhi penghianatan bagi ummat Islam oleh para kaum intelektual liberal yang berkiblat kepada sekulerisme. Duka dan airmata warga muslim Uyghur belum kering, saudara seimannya dari Indonesia justru memperpanjang tangis mereka dengan menjalin hubungan kemesraan dengan pemerintah China.

Penghianatan dan semua penodaan yang dilakukan oleh oknum dan kelompok tertentu bermantelkan Islam akan berakhir jika syariah Islam ditegakkan. Karena Islam akan memberikan sanksi yang tegas bagi para penghianat dan teman mesra musuh agama Allah. Saatnya ummat Islam sadar bahwa dunia khususnya kaum muslimin membutuhkan satu wadah kesatuan untuk saling melindungi dan menjaga kehormatan saudara seimannya. Wallahu a’lam bissawab.

Pos terkait