Bisunya Demokrasi Atas Upaya Genosida India

  • Whatsapp
Pembantaian Muslim India
Pembantaian Muslim India, Foto: Daily News Indonesia

Oleh Tri Ummu Ahsan (Pemerhati Politik Internasional)

Kerusuhan pecah di India sejak Ahad 23 Februari lalu. Total korban tewas per Sabtu 29 Februari mencapai 42 orang, sementara korban luka ratusan. Masjid, rumah, dan pertokoan pun turut jadi sasaran amuk massa.

Bacaan Lainnya

Masifnya korban membuat kejadian ini dinilai sebagai serangan bernuansa SARA paling brutal di India dalam beberapa puluh tahun terakhir. Anggota DPR Komisi I dari Fraksi Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya menilai pemerintah Indonesia semestinya dapat turut serta menyelesaikan masalah ini. Alasan pertama, karena Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Sementara pada kasus ini korban kebanyakan muslim. Selain itu, “Indonesia dan India memiliki hubungan baik,” kata Riefky lewat keterangan tertulis, Ahad (1/3/2020). “Dari hubungan tersebut sepatutnya Indonesia dapat mendorong pemerintah Indonesia untuk dapat menerapkan keadilan sesuai peraturan yang berlaku di negara tersebut,” tambahnya. Masalah dimulai ketika Perdana Menteri India Narendra Modi meloloskan Undang-Undang (UU) Amandemen Warga Negara atau Citizenship Amendment Bill (CAB) yang sangat kental dengan nuansa anti-muslim, dua bulan lalu. Disebut anti-muslim karena UU CAB memungkinkan para imigran ilegal dari Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan untuk mendapatkan kewarganegaraan, kecuali mereka yang beragama Islam. Di bawah UU ini, muslim India juga wajib membuktikan kalau mereka memang warga negara India. UU CAB sendiri adalah bagian dari agenda supremasi Hindu di bawah pemerintah Narendra Modi yang berkuasa sejak hampir 6 tahun lalu. Kelompok muslim turun ke jalan menolak peraturan baru ini. Namun aksi mereka dibalas tindakan represif.

Apakah kesalahan mereka karena mereka adalah muslim? Apakah mereka tidak berhak hidup tenang dan bahagia sebagaimana yang lain? Allah telah memuliakan umat Islam dan mereka umat terbaik yang ada di muka bumi ini. 

Bisunya Demokrasi Dan Negeri Muslim

Sampai detik ini Indonesia belum nampak menunjukkan keberpihakannya kepada saudara muslim India. Diamnya Jokowi bukan tanpa alasan. Karena sesungguhnya kasus serupa–persekusi terhadap minoritas–juga terjadi di dalam negeri. Konsep bebas aktif yang menjadi pondasi kebijakan luar negeri harusnya mendorong Indonesia lebih sering aktif di balik layar, alih-alih menunjukkan sikap tegas di depan podium internasional. Dan fakta lain yang menunjukkan bahwa India adalah  mitra dagang strategis Indonesia, termasuk sebagai pasar ekspor sawit, menjadikan Indonesia bisu. Demokrasi dan ideology kapitalisme merupakan biang kerok utama atas bisunya negeri-negeri kaum muslimin terhadap apa yang menimpa saudara mereka. Sekat nation state yang begitu diagungkan menjadi pembatas nyata tidak bolehnya ada “intervensi”Negara satu atas Negara lain. Meskipun telah terjadi tindak kedzaliman nyata.

Khilafah Junnah Hakiki

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (TQS Al-Ma’idah : 82).

Musibah kita ada di para penguasa di negeri kaum Muslim. Potensi kekuatan milik kita cukup, bahkan lebih dari cukup, untuk mengembalikan hak-hak kita dengan mulia dan membisikkan kepada musuh pelajaran yang mereka ingat hingga kuburnya! Tetapi, para penguasa yang berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukmin, mereka tunduk kepada tuan-tuan mereka kaum kafir imperialis lebih lebih dari ketundukan mereka kepada Allah Rabb semesta alam. Mereka melarang tentara memerangi musuh-musuh mereka untuk membebaskan negeri mereka yang diduduki … kemudian dengan kehinaan dan kerendahan itu para penguasa itu mencari sesuatu dari remahan di koridor PBB dan Dewan Keamanan. Tetapi meski semua hal menyedihkan ini, negeri kaum Muslim yang diduduki mulai Palestina hingga Kashmir (India), Burma wilayah Rohingya, kemudian Turkistan Timur, Kaukasus, Chechnya dan sekitarnya, Krimea dan semua negeri yang di situ muadzin melantangkan takbir tetapi diduduki oleh musuh-musuh Islam. Semuanya akan kembali, dengan izin Allah, ke Dar al-Islam yang di atasnya Rayah Islam berkibar. Dikembalikan oleh Imam yang menjadi perisai. Dikembalikan oleh Khalifah yang mendapat petunjuk. Dikembalikan oleh pasukan Islam yang berjihad. Maka siapa saja yang menginginkan kemuliaan di dunia dan di al-Firdaus yang tinggi di akhirat maka hendaknya menyingsingkan lengannya dan berjuang bersama para pejuang untuk menegakkan al-Khilafah, dan hendaknya perjuangan ini mengalir di darahnya, jantungnya dan tubuhnya dengan benar dan ikhlas …

﴿إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ﴾“Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja” (TQs ash-Shafat [37]: 61).

Pos terkait