Kenaikan Anggaran Covid, Bukan Jaminan Penyelesaian

  • Whatsapp
Kenaikan Anggaran Covid, Bukan Jaminan Penyelesaian
Ilustrasi gaji, rupiah, bantuan pemerintah, bantuan karyawan(Foto: Shutterstock)


Oleh: Nur Haya, S.S (Pemerhati Sosial)

Sudah ada hampir satu tahun, Indonesia masih berkubang dengan wabah corona. Hingga saat ini korban terinfeksi semakin menajak naik. Bukan karena tidak ditangtani, tetapi kebijakan yang diambil negara seperti PSBB, PPKM, diKaltim steril ternyata belum bisa menyelesaikan masalah wabah ni. Bahkan seolah menunjukkan ketidak seriusan negara dalam penangannya.

Bacaan Lainnya

Terbaru, negara menaikkan alokasi anggaran penanganan covid-19 dan pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)2021. Yang semula berjumlah Rp 619 Triliun kini menjadi Rp 627,9 Triliun. Di sampaikan Menku Indonesia Sri Mulyani Indrawati, penambahan alokasi anggaran PEN sengaja dilakukan pemerintah tujuannya untuk menekan peningkatan pandemi virus corona juga penyebab nya dibidang kesehatan, sosial, dan ekonomi (CNN INDONESIA, Ahad 07/02/2021).

Baca Juga:  Anies Baswedan, Pemicu Penguatan Kurs Rupiah?

Baca Juga: Pekerja China Luka-luka dan Pabrik-pabrik China di Myanmar Dijarah dan Dibakar, Ada Apa Sebenarnya ?!

Tapi apakah cukup dengan menambah alokasi dana penyelesaian virus corona mampu menghilangkan corona dari Indonesia tanpa disertai dengan solusi bener(shahih)?. Pertanyaan yang harusnya muncul dibenak pemimpin negri ini, untuk kembali mengevaluasi percapaian dari solusi sebelumnya dalam menanganin covid-19 agar segera sirna.

Karna faktanya hingga sekarang  solusi yang telah diterapkan tak membuahkan hasil bahkan malah memperparah penyebaran pandemi virus ini. Terbaru kasus terinfeksi covid ada 1,33 juta , sembuh 1,14 juta dan meninggal 35.981 orang. Angka statistik ini membuktikan  negeri ini bener-bener darurat dan zona merah oleh virus corona.

Baca Juga:  RUU Cilaka Menuai Masalah

Kenaikan Anggaran  Covid, Bukan Jaminan  Penyelesaian

Memang negara telah melakukan upaya memutus mata rantai virus corona. Namun nampaknya tidak serius dalam memecahkan masalah pandemi ini.  Katakanlah dari awal muncul covid-19  langkah melawan wabah  ini sangat lamban, disambut dengan kebijakan yang tidak balance yakni menerapkan PSBB tapi tidak menjamin kebutuhan pokok rakyat.

Maka yang terjadi rakyatpun terpaksa memilih melanggar PSBB demi bertahan hidup dalam kondisi yang sulit tersebut. Bahkan negara menerapkan lockdown secara maksimal dalam menanggani pandemi virus corona, hanya karena alasan krisis ekonomi merupakan kesalahan.

Baca Juga:  Di Negeri Sekuler, Barang Mewah Itu Bernama Keadilan

Ditambah lagi solusi pragmatis saat ini, dari kebijakan melawaan corona kemudian berbalik arah berdamai dengan corona atau new normal life. Padahal ditengah pasien covid-19 meningkat dratis. Yang makin memperparah dalam melumpuhkan manusia maupun perekonomian. Penanganan selanjutnya dengan mewajibkan vaksinasi Sinovac bagi rakyat tujuan bisa terlindungi dari corona. Dengan pengadaan vaksin ini negara penambah anggaran covid-19. Cukupkah begini?

Dapat di analogikan menyalakan anti nyamuk dihutan, anti nyamuk habis terbakar tapi nyamuk masih banyak hidup karena pemicu datangnya nyamuk tidak ditutup. begitu juga virus corona, negara sibuk  mengobati tapi lupaa menutup pintu datangnya. Sibuk melakukan sosial distancing  dimasyarakat tapi dibiarkan keluar masuk orang asing. Vaksinasi tapi tidak menjalankan lockdown itu sama halnya penanganan setengah hati.

Baca Juga:  Tol Laut, Antara Ambisi dan Realisasi

Pasalnya solusi hanya parsial saja, samasekali tak mampu menghentikan laju penyebaraan covid-19. Dengan peningkatan anggaran PEN 2021 tidak signifikan memberi harapan penuntasan pandemik. Bahkan akan menambah maslah perekonomian negara yang sudah resesi.

Dana yang lebih banyak dikeluarkan tanpa berdasar atas kebijakan yang benar dalam penanganan virus corona hanya memperpanjang masa pandemic dan kesengsaraan rakyat. Masyarakat harus berjuang keras dikeadaan krisis yang tak kunjung berakhir. Berjuang sendiri menyediakan dana kesehatan dan kebutuhan hidupnya sambil bertaruh akan terkena virus corona.

Tidak kunjung berakhirnya masa pandemi di negri ini menunjukkan kegagalan penguasa bahkan makin terpuruk. Ini semakin memperlihatkan gambaran kerusakan sistem demokrasi kapitalis dalam memecahkan masalah kehidupan. Dengan landasannya aturan buatan manusia yang terbatas tidak mampu menandingi aturan shohi sang pencipta. Sistem kapitalis menjadikan manusia hanya mengejar materi semata dengan segala cara walau itu merugikan orang disekitar. Landasan hidup ini yang merusak manusia dan membuatnya terperosok dalam kehinaan.

Baca Juga:  Human Trafficking, Derita Perempuan Akibat Racun Feminis Produk Kapitalis

Semua penyakit ada obatnya. Maka semua masalah ada pemecahannya jika manusia mau di atur dengan aturan yang syar’i. Jalan satu satunya dapat keluar dari musibah ini ialah mengambil islam sebagai sholusi dan kehidupan berkah pun akan menaungi.

Lokcdown solusi islam

Telah satu setengah abad silam islam sudah gamblang memberikan solusi menghadapi kala ada tertimpa musibah wabah yang berbahaya dan ganas. Dan berhasil memulihkan negeri itu dari wabah yang menimpannya. Negara pun mengambil solusi shohi dengan aturan yang berasal dari Alquran dalam menghadapi wabah. Aturan-aturan yang diberlakukan seperti:

Baca Juga:  Nasihat Tokoh Bangsa Dr Rizal Ramli: Pemimpin Hebat Pilih Jalan Negarawan

Negara menelusuri wilayah sumber kemunculan virus ini. Kemudian menutup segala akses yang bisa membuat penyebaran penyakit meluas (lockdown). Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu”. (HR. Bukhari)

Negara menjalankan kewajiban untuk melayani rakyat yaitu : pertama, Menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobaan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat. Kedua, Mendirikan rumah sakit beserta laboratorium pengecekan dan pengobatan. Ketiga, Menjamin ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang memenuhi standar kesehatan untuk para tenaga medis. Keempat, Negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok bagi warga yang terisolir agar tak terjadi panic buying (pembelian berlebihan akibat panik). Kelima, Negara menjaga akidah umat agar keimanan dan ketakwaan masyarakat tetap terwujud. Keenam, Negara memberikan edukasi dan informasi yang benar terkait virus ini pada masyarakat agar tak dianggap remeh.

Baca Juga:  Skenario Pembebasan Koruptor Di Tengah Pandemi Corona

Inilah keagungan islam dalam mengurusi urusan rakyatnya. Sholusi yang tidak akan diambil dalam sistem kapitalis hanya mencari keuntungan para pemangku kepentingan. Dengan menjadikan islam sebagai sholusi maka keberkahan akan kita rasakan.Wallahu’alam bishwab.(*)

Baca Juga: Pekerja China Luka-luka dan Pabrik-pabrik China di Myanmar Dijarah dan Dibakar, Ada Apa Sebenarnya ?!

Pos terkait

Tulis Komentar Anda di Sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.