Perang atau Berdamai dengan Corona?

Ragil Rahayu
Ragil Rahayu, SE

Oleh Ragil Rahayu, SE

Diksi berdamai dengan corona marak diperbincangkan masyarakat. Muncul kebingungan. Maksudnya bagaimana? Apalagi diksi diucapkan oleh Jokowi yang sebelumnya mengumumkan perang melawan corona. Melalui akun resmi media sosialnya pada Kamis (7/5), Jokowi meminta pada masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan. Pernyataan itu bertentangan dengan apa yang disampaikannya dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu. Kala itu, Jokowi secara terbuka mendorong agar pemimpin negara-negara dalam G20 menguatkan kerja sama dalam melawan Covid-19, terutama aktif dalam memimpin upaya penemuan anti virus dan juga obat Covid-19. Bahasa Jokowi kala itu, ‘peperangan’ melawan Covid-19.

Bacaan Lainnya

Apakah maksud kontradiksi tersebut adalah bahwa strategi perang melawan corona itu dianggap tidak efektif sehingga perlu diubah? Entahlah,  rakyat makin bingung saja. Setelah menyerukan berdamai dengan corona, pemerintah memunculkan tagline the new normal yang mengajak rakyat hidup normal. Kembali bekerja, kembali berbelanja, kembali beraktivitas tapi dengan cuci tangan, memakai masker dll. Kondisi pandemi kok disuruh hidup normal, apa mungkin?

Ada Syaratnya

Sikap berdamai dengan penyakit biasanya dilakukan oleh individu yang telah sakit lama dan tak kunjung sembuh. Sehingga dia memilih menerima penyakitnya dengan ikhlas dan pasrah. Namun ini adalah sikap individu, bukan penguasa sebuah negara. Juga ada catatan, orang yang memilih berdamai dengan penyakit tersebut biasanya telah melakukan upaya maksimal, tapi tak kunjung sembuh. Catatan lain adalah orang tersebut ketika berdamai dengan penyakit bukan berarti tidak berusaha sembuh. Dia tetap ikhtiar maksimal, tapi jiwanya berada pada puncak keikhlasan. Demikianlah gambaran berdamai dengan penyakit.

Sikap pemerintah yang mengajak berdamai dengan corona bisa jadi terinspirasi beberapa negara lain yang melakukan relaksasi. Misalnya Amerika, Korea Selatan dan China. Namun patut diingat, mereka adalah negara maju dengan sistem kesehatan yang canggih. Berbeda jauh dengan Indonesia yang kondisi layanan kesehatannya sangat terbatas. Patut diingat juga, pasca relaksasi, Korea Selatan mengalami lonjakan kasus positif corona lagi sehingga tempat hiburan malam ditutup kembali.

Bagaimana dengan Indonesia, apakah tepat berdamai dengan corona? Saat ini kasus corona di Indonesia masih tinggi. Meski sudah menerapkan PSBB, jumlah kasus tetap naik tiap harinya, tak pernah turun. Meski pemerintah mengklaim Indonesia telah memasuki kondisi flat. Namun, jumlah kasus terkonfirmasi yang dirilis pemerintah dikhawatirkan belum mencerminkan kondisi riil. Hal ini karena keterbatasan dalam melakukan tes PCR. Kemampuan melakukan 10 ribu tes PCR dalam sehari yang ditargetkan Presiden Jokowi belum mampu terpenuhi. Melihat pemerintah tidak tegas, masyarakat ikut santai. Masyarakat kurang acuh terhadap protokol kesehatan di tengah pandemi, bahkan di saat PSBB diberlakukan.

Negara Lepas Tangan

Dengan melihat ikhtiar negara yang minim, juga sikap tak acuh masyarakat, seruan berdamai dengan corona menjadi tidak tepat. Seruan ini lebih merupakan upaya lepas tangan penguasa dari tugas utamanya untuk mengurusi rakyat. Pernyataan ini seolah mengkonfirmasi bahwa negara menerapkan herd immunity. Yaitu membiarkan masyarakat terkena penyakit hingga muncul imunitas dan masyarakat menjadi kebal. Padahal herd immunity itu butuh “tumbal” berupa 3% penduduk harus dikorbankan menjadi korban, baru muncul imunitas. “Tumbal” yang 3% itu adalah orang-orang yang punya daya tahan tubuh rendah, seperti para lansia. Itulah sebabnya herd immunity akan menjadi genosida terhadap para lansia.

Memang para lansia ini dilarang keluar rumah, karena hanya rakyat usia 45 tahun ke bawah yang boleh keluar untuk beketja dan lain-lain. Tapi ingat, orang-orang muda ini bisa jadi terkena virus corona tanpa sadar dan tetap bugar. Sementara dia pulang membawa virus dan menulari orangtuanya. Jika seruan berdamai dengan corona ini diteruskan, apa kita disuruh harus siap kehilangan orangtua kita? Ah, semoga saja itu tidak terjadi. Semoga bulan Juni segera datang dan corona pergi dari muka bumi, seperti prediksi entah siapa. Tapi, tanpa ikhtiar maksimal, apa bisa? Yang jelas, seruan berdamai dengan corona mengonfirmasi satu hal: di negeri ini ekonomi lebih dihargai daripada nyawa manusia.[]

Pos terkait