Perusakan Generasi di balik Kampanye Body Positivity

Body Positivity
Body Positivity. Foto: Halodoc

Oleh: Ragil Rahayu, SE

Awal bulan ini, Tara Basro memposting foto tanpa busana di akun media sosialnya. Postingan di twitter akhirnya dihapus, namun kehebohan terlanjur melanda publik. Aktris ini beralasan foto tersebut adalah ajakan untuk mencintai tubuh sendiri atau yang lebih dikenal sebagai body positivity.

Bacaan Lainnya

Berawal dari“My Body, My Authority”

Kampanye body positivity muncul karena maraknya body shaming. Kalangan artis sering menjadi korban perundungan verbal terkait tubuh mereka. Tak hanya artis, lebih dari separuh orang dewasa pernah menjadi korban body shaming atau olokan/kritik mengenai warna kulit, ukuran badan, bahkan bentuk kaki. Dalam survei yang melibatkan 2.000 orang dewasa, sekitar 56 persen mengatakan pernah menjadi korban body shaming dalam setahun terakhir.

Terjadinya body shaming  diawali dari adanya pandangan liberal perempuan terhadap tubuhnya. My body, my authority. Tubuhku, otoritasku. Perempuan bebas untuk memperlakukan tubuhnya, termasuk memamerkannya. Setiap pelarangan terhadap perempuan untuk menampakkan tubuhnya dianggap melanggar kebebasan.

Para perempuan pun ramai-ramai menampakkan tubuhnya di hadapan publik. Baik secara langsung maupun melalui medsos. Sebagian besar dari mereka mengekspose keindahan tubuhnya. Sebagian yang lain memamerkan kekurangan pada tubuhnya. Seperti adanya selulit, bekas luka, lemak, dll. Namun esensinya sama, yakni membuka tubuh dan mengumumkannya pada dunia. Tanpa peduli pengaruh postingannya terhadap orang lain.

Ya, sebuah foto tanpa busana mungkin terasa biasa bagi si pemosting. Namun, bagaimana dengan para lelaki di luar sana? Bagaimana dengan para remaja laki-laki yang punya rasa ingin tahu tinggi dan belum stabil pencarian jatidirinya?

Gambar porno berpengaruh besar pada otak manusia dan perilakunya. Dikutip dari sardjito.co.id, kecanduan pornografi mengakibatkan kerusakan otak yang cukup serius. Pornografi bukan hanya merusak otak dewasa tetapi juga otak anak.

Kerusakan otak yang diserang oleh pornografi adalah Pre Frontal Korteks (PFC), bagi manusia bagian otak ini merupakan salah satu bagian yang paling penting karena bagian otak ini hanya dimiliki oleh manusia sehingga manusia memiliki etika bila dibandingkan binatang. Bagian otak ini berfungsi untuk menata emosi, memusatkan konsentrasi, memahami dan membedakan benar dan salah, mengendalikan diri, berfikir kritis, berfikir dan berencana masa depan, membentuk kepribadian, dan berperilaku sosial.

Islam Melindungi Generasi

Namun, alih-alih melindungi generasi dari bahaya pornografi, pemerintah justru membenarkan pamer aurat ala Tara Basro. Alasan Menkominfo, foto Tara Basro terkategori seni sehingga tidak termasuk pornografi. Ini adalah pernyataan yang berbahaya, karena menunjukkan sikap liberal pemerintah. Para orang tua dan guru mendidik anak untuk menutup aurat dan tidak melihat pornografi, tapi ternyata pemerintah membolehkannya dengan dalih seni.

Islam memiliki batasan baku tentang pornografi. Setiap aktivitas menampakkan aurat adalah porno. Bagi perempuan, auratnya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Haram bagi perempuan menampakkan selain keduanya. Islam juga mewajibkan ghaddul bashar yakni menundukkan pandangan, tidak melihat aurat. Ghaddul bashar wajib bagi laki-laki maupun perempuan. Baik terhadap objek langsung, maupun gambar/video. Dengan pengaturan ini akan melindungi generasi dari paparan pornografi yang merusak.

Agenda Liberalisasi

Di balik kampanye body positivity, ada upaya para feminis untuk meliberalkan perempuan muslimah. Perempuan didorong untuk pamer aurat, padahal dampaknya adalah kerusakan generasi. Ini dilakukan berkolaborasi dengan penjajahan yang dilakukan barat atas dunia Islam. Barat tak menghendaki umat Islam bangkit sehingga dicegah dengan merusak generasi mudanya. Semoga umat segera menyadari agenda ini dan menolak setiap upaya merusak generasi berkedok body positivity.[]

*)Ibu, penulis dan pengasuh Majelis Taklim.

Pos terkait