Ferry Juliantono: Momentum Sumpah Pemuda Harus Jadi Refleksi Arah Cita-cita Bangsa Indonesia

  • Bagikan
Ferry Juliantono: Momentum Sumpah Pemuda Harus Jadi Refleksi Arah Cita-cita Bangsa Indonesia
Ferry Juliantono saat dialog Renungan Hari Sumpah Pemuda di Gedung Dekopin Wilayah DKI Jakarta/RMOL

IDTODAY.CO – Hari Sumpah Pemuda harus menjadi momentum bagi seluruh elemen Bangsa Indonesia untuk merefleksikan diri bagaimana perjalanan dari cita-cita dan tujuan dari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Begitu dikatakan inisiator Perhimpunan Menemukan Kembali Indonesia Ferry Juliantono dalam dialog Renungan Hari Sumpah Pemuda di Gedung Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Wilayah DKI Jakarta di Bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (28/10).

Dikatakan Ferry Juliantono, melalui forum Perhimpunan Menemukan Kembali Indonesia, sejumlah aktivis yang berkumpul ingin memastikan kembali bahwa cita-cita dan tujuan kemerdekaan benar dirasakan seluruh warga negara.

“Kita ingin untuk membangun kembali imajinasi tentang Indonesia yang kita bangun satu semangat untuk bersama-sama kemudian untuk semua tujuannya,” ujar Ferry Juliantono.

Pasalnya, kata dia, belakangan arah bangsa Indonesia hanya dikendalikan dan dirasakan manfaatnya oleh segelintir orang. Yaitu, elite-elite politik yang dikenal dengan kaum oligarki.

“Setelah kita merdeka hasilnya sekarang tidak untuk semua bahkan bisa dikatakan tujuannya hanya untuk segelintir orang kemanfaatan bangsa ini kepada yang kita sebut sebagai oligarki,” terangnya.

Untuk itu, lanjut politisi Partai Gerindra ini, pemerintah Indonesia harus kembali menguatkan apa tujuan bangsa Indonesia dan bagaimana tujuan itu benar-benar mengedepankan hajat rakyat.

“Untuk menjaga kepentingan nasional kita minta pemerintah Indonesia untuk kembali dalam posisi mengutamakan kepentingan rakyat dan kepentingan nasionalnya,” tandasnya.

Hadir dalam acara ini tokoh-tokoh aktivis seperti Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, Adhie Massardi, Rocky Gerung, Bambang “Beathor” Suryadi.

Begitu juga pakar hukum tata negara Refly Harun dan ekonom senior Faisal Basri serta pululuhan aktivis lainnya.

Sumber: rmol.id

  • Bagikan