Haedar Nashir: Memahami Tajdid Pada Gerakan Muhammadiyah

  • Whatsapp
Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir/RMOL

IDTODAY.CO – Kader Muhammadiyah perlu introspeksi atau muhasabah secara objektif tentang kondisi Muhammadiyah saat ini dan bagaimana proyeksinya ke depan.

Begitu dikatakan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam ceramah kajian Ramadhan bertema “Tajdid Organisasi Muhamamdiyah Di Era Perubahan”, Jumat (16/4).

Bacaan Lainnya
Baca Juga:  Pengamat Prediksi Terjadi Demonstrasi Lebih Besar Apabila Tuntutan Kenaikan Gaji Tak Terealisasi

Dikatakan Haedar Nashir, diksi “tajdid” mengandung makna pembaruan, yang

memiliki arti dan konteks yang sangat penting di dunia Islam, yang melekat dengan pesan penting dalam ajaran Islam dan sejarah umat Islam.

“Kelahiran dan jatidiri Muhammadiyah tidak lepas dan bahkan melekat denhan Tajdid, sehingga Muhammadiyah dikenal sebagai Gerakan Tajdid atau Harakatu Tajdid,” ujar Haedar.

Pada Muktamar ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta, dikatakan Haedar, disepakti dan ditetapkan kebijakan “Retajdid” yakni memperbarui kembali Muhammadiyah yang menghasilkan beberapa hal.

Baca Juga:  Mahfud MD Sebut Polisi Akan Terus Kejar Para Dalang Kerusuhan Demo UU Cipta kerja

“Retajdid di bidang ideologi menghasilkan ‘Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah’ (1969), retajdid bidang perjuangan yaitu ‘Khittah Muhammadiyah (1971), retajdid bidang dakwah menghasilkan ‘Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah’ (1968), retajdid amal usaha menghasilkan sejumlah kebijakan dan program, serta yang belum tergarap retajdid bidang organisasi,” jelas Haedar.

“Tajdid bidang organisasi tidak linier berkaitan dengan kelembagaan, tetapi sebenarnya berkaitan dengan nilai, pelaku, sistem atau struktur, budaya, dan lingkungan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Fantastis, Ahok Dapat Gaji 170 juta Perbulan Dari Pertamina

Meski begitu, Haedar menekankan, Tajdid Muhammadiyah tidak sama dengan gerakan revivalisme Islam, yang diartikan kebangkitan kembali Islam.

Lanjutnya, Muhammadiyah juga bukan dan tidak beraliran gerakan fundamentalisme Islam. Gerakan yang ingin kembali ke hal yang prinsip sebagai respons atas modernisme dan sekularisme.

“Salah satu karakteristik atau ciri terpenting dari fundamentalisme Islam ialah pendekatannya yang literal terhadap sumber Islam (Al Quran dan al Sunnah) dan bersikap ekslusif terhadap golongan lain,” katanya.

Baca Juga:  Darurat Sipil Ada di Perppu Nomor 23 Tahun 1959, Isinya Mengerikan

Sedangkan Tajdid Muhammadiyah bersifat purifikasi dan dinamisasi, tersistem dalam tajdid jama’i (kolektif kelembagaan), serta berorientasi pada kemajuan.

“Islam berkemajuan dan gerakan pencerahan menjadi karakter tajdid Muhammadiyah,” demikian Haedar.

Baca Juga: Adhie Massardi: Jika Pilpres Jadi Hajatan Para Cukong, Hubungan Penguasa-Pengusaha Berubah Cukong-Kacung

Sumber: rm0l.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.