IDTODAY.CO – Tindakan serangan teror yang menyasar Markas Besar (Mabes) Polri di Jakarta menyita perhatian publik.

Pasalnya, pelaku Zakiah Aini yang masih berusia 25 tahun diketahui terpapar ajaran radikal dan menjadi simpatisan ISIS. Dia mengetahui paham-paham ISIS melalui jejaring media sosial.

Soal hal tersebut, aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti mengatakan, kasus Zakiah Aini merupakan bukti bahwa radikalisme dan perbuatan teror tidak mengenal usia.

“Sobat, soal radikalisme, persoalannya bukan milenial atau manula,” ujar Haris di akun Twitternya, Minggu (4/4).

Haris menyebutkan, jika diarahkan dengan benar, semangat pemuda di Indonesia sudah terbukti membawa gerakan yang berpengaruh besar pada dinamika berbangsa.

“Sumpah Pemuda 1928 digerakin mereka yang berumur belasan tahun. Reformasi 1998 oleh mahasiswa 20an tahun,” katanya.

Dia menduga, minimnya pengetahuan dan tiadanya pandangan-pandangan kritis seperti masa lalu menyebabkan sebagian kecil generasi muda Indonesia terjebak pada perang proxy dari paham-paham menyimpang.

“Ambruknya teori kritis memandu perubahan, mengakibatkan segelintir anak muda terperosok jadi pion proxy war,” tandasnya.

Baca Juga: Gus Yaqut: Muhammadiyah Masa Depan Adalah Pemuda Muhammadiyah Hari Ini

Sumber: rmol.id

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan