Ilham Bintang: Seharusnya Pers Lebih Bersuara Dibanding Deddy Corbuzier Dan Bintang Emon

Wartawan senior Ilham Bintang
Wartawan senior Ilham Bintang/RMOL

IDTODAY.CO – Tantangan yang akan dihadapi oleh media siber di masa mendatang menjadi bahasan menarik dalam diskusi virtual dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) ke-1, Kamis (25/6).

Acara yang dimoderatori oleh Ketua JMSI Banten Dede Zaki Mubarok ini menghadirkan pendiri Grup CekNRicek Ilham Bintang dan pendiri Jagaters Joko Intarto sebagai pembicara. Keduanya juga merupakan wartawan senior dengan jam terbang yang tinggi. Plt. Ketua Umum JMSI, dan Mahmud Marhaba, memberikan pengantar untuk membuka diskusi virtual yang dihadiri tak kurang dari 60 pengurus JMSI seluruh Indonesia.

Bacaan Lainnya

Mengawali pemaparannya, Ilham Bintang menyoroti konten podcast Deddy Corbuzier yang saat ini tengah berurusan dengan hukum sebagai buntut dari wawancara dengan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Wawancara yang dilakukan presenter Deddy Corbuzier dengan Menteri Kesehatan RI periode 2004-2009 Siti Fadilah Supari, itu dianggap melanggar hukum karena Siti masih berstatus narapidana kasus korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes).

Menurut Ilham, Dedy bukanlah seorang wartawan secara personal maupun profesi, melainkan konten yang dibuatnya itu dinilai Ilham sebagai satu karya Jurnalistik yang seharusnya jadi pemantik bagi wartawan untuk membuat konten serupa.

“Karena banyak juga wartawan yang menuliskan berita atau opini tapi tidak sesuai karya jurnalistik,” kata Ilham dalam paparannya.

Kemudian selain itu, pendiri Cek N Ricek ini juga menyoroti komika Bintang Emon yang menyuarakan aspirasinya soal vonis ringan terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan. Hingga akhirnya dibully oleh nitizen.

“Seharusnya perslah yang menyampaikan apa yang disampaikan oleh Bintang Emon itu,” tandas Ilham.

Dari contoh keduanya, Ilham menyayangkan bahwa seharusnya pers yang menyuarakan atau menggemakan melalui berita maupun editorialnya masing-masing.

Namun, pers atau media justru asik menggoreng-goreng isu dan atas polemik Dedy Corbuzier dan Bintang Emon.

Dalam tesisnya merujuk kepada dua contoh di atas, Ilham menyimpulkan bahwa masyarakat kini sudah menempuh caranya masing-masing untuk mendapatkan berita bahkan menerbitkanya yang tentunya mengancam kehidupan pers profesional itu sendiri.

“Meski media akan terus berkembang dan media cetak akan diprediksi selesai, namun seorang wartawan tidak akan pernah,” pungkas Ilham.

Sumber: rmol.id

Pos terkait