Jawaban Cerdas Jokowi Saat Diwawancara BBC News Malah Disindir Said Didu

Jawaban Cerdas Jokowi Saat Diwawancara BBC News Malah Disindir Said Didu
Said Didu/Pojoksatu

IDTODAY.CO – Jawaban cerdas Jokowi saat diwawancarai oleh Asia Presenter BBC News, Karishma Vaswani mendapat pujian dari sejumlah kalangan.

Presiden Jokowi dianggap berhasil memberikan jawaban memuaskan. Ia memberikan jawaban diplomatis dan tidak terjebak dengan pertanyaan menohok Karishma Vaswani.

Meski dipuji banyak orang, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu justru menyindir mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Said Didu menilai dalam wawancara tersebut, Jokowi secara tidak langsung mengakui bahwa dia terkendala bahasa.

Jokowi menjawab pertanyaan Karishma Vaswani dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan Karishma Vaswani menggunakan bahasa Inggris.

Said Didu menyebut Jokowi tampak berani tampil sendirian saat diwawancara, padahal dia membutuhkan bisikan.

Selain itu, kata Said Didu, Jokowi juga hanya menyampaikan apa yang dia ketahui, bukan menjawab apa yang ditanya oleh Karishma Vaswani.

Hal itu dikatakan Said Didu saat menanggapi cuitan BBC Indonesia yang membagikan video wawancara Karishma Vaswani dengan Jokowi, Minggu (31/10).

“Jujur ada kemajuan dari wawancara ini:
1) berani jujur bhw ada kendala bahasa
2) berani “sendirian” tapi butuh bisikan
3) berani “menjawab” dg menyampaikan apa yang diketahui dan ingin disampaikan BUKAN menjawab apa yang ingin diketahui penanya,” kata Said Didu, dikutip Pojoksatu.id dari akun Twitternya, @msaid_didu.

Baca Juga:  Ribka Tjiptaning: Pajak Bisa Dibebaskan, Kenapa Iuran BPJS Naik?

Dalam video wawancara yang dilakukan pada Rabu (27/10), Karishma Vaswani mencecar Jokowi dengan sejumlah pertanyaan kritis dan menohok.

Kendati demikian, Jokowi berhasil memberikan jawaban diplomatis yang sangat memuaskan.

Jokowi tidak terjebak dengan pertanyaan tajam dari Karishma Vaswani.

Simak Wawancara Karishma Vaswani dengan Jokowi berikut ini:

Karishma Vaswani: Hampir 150.000 orang di Indonesia meninggal karena Covid-19, itu angka yang tercatat secara resmi, angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih banyak daripada itu. Meskipun Anda mengatasi (pandemi) lebih baik saat ini, awalnya, pemerintah Anda menganggap remeh penyakit ini, dan imbasnya, Indonesia terlambat menyadari bahanya. Bagaimana pemerintah Indonesia bertanggung jawab atas kematian ini?

Jokowi: Dulu 56.000 kasus (per hari) memang rumah sakit kita, fasilitas kesehatan kita penuh dan tidak mampu menampung. Saat itulah memang terjadi kematian yang sangat banyak, hampir 2.000 (kematian) per hari. Tetapi saat ini, sudah kita bisa tekan, bisa kita kendalikan.

Baca Juga:  Jokowi Komitmen Buka 1 Juta Hektar Lahan Di Luar Jawa, Natalius Pigai: Hanya Dongeng Dan Cita Rasa Utopia

Karishma Vaswani: Jika Anda melihat ke belakang, apa kesalahan terbesar yang dilakukan pemerintahan Anda?

Jokowi: Ya, menurut saya (karena) fasilitas kesehatan kita yang belum baik. Ini yang akan kita perbaiki dengan reformasi di bidang kesehatan Indonesia, utamanya fasilitas kesehatan, kemudian peningkatan pembangunan SDM yang lebih merata di seluru Indonesia.

Ingat bahwa fasilitas kesehatan di Jawa dengan di luar Jawa itu perbedaannya sangat jauh sekali. Ini yang ingin kita kejar.

Karishma Vaswani: Anda menghindari melakukan karantina wilayah nasional, karena saya paham dulu Anda khawatir tentang ekonomi dan pertumbuhan ekonomi, namun tetap saja ada jutaan orang yang kehilangan pekerjaan, dan jika boleh saya katakan saat ini ekonomi Indonesia masih belum pulih, apa rencana pemulihan yang akan Anda lakukan?

Jokowi: Pandemi Covid-19 ini memberikan dampak ekonomi, tetapi kita melihat, kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, saya kira kita berada pada posisi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Baca Juga:  Zita Anjani: Mas Menteri Jangan Tunggu Terus, Cepat Buat Inovasi

Yang paling penting, ketika pembatasan kegiatan masyarakat itu sudah dibuka, ekonomi informal kembali pulih, sehingga konsumsi masyarakat dan kesejahteraan rakyat bisa tetap terlindungi.

Karishma Vaswani: Pak Presiden, saat ini terjadi ketimpangan dalam distribusi vaksin secara global, dan WHO menyatakan pandemi bisa berlangsung lebih lama karena itu. Bagaimana pendapat Anda tentang negara maju yang lebih dulu mendapatkan vaksin?

Jokowi: Ya, idealnya memang vaksin ini bisa merata ke semua negara. Oleh sebab itu, Indonesia menyuarakan untuk keadilan terhadap akses vaksin. Ini penting sekali.

Karishma Vaswani: Saya tahu ada satu negara yang menawarkan bantuan, dan bahkan sejak awal telah membantu kebutuhan vaksin di Indonesia, dan itu adalah China. Apakah China jauh lebih membantu dibanding negara-negara Barat?

Jokowi: Semuanya (negara maju) memang sudah membantu, tetapi menurut saya kurang. Bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk negara-negara berkembang lainnya, apalagi untuk negara-negara miskin. Ini sangat perlu sekali untuk diberikan bantuan untuk mendapatkan vaksin.

Sumber: pojoksatu.id