Luhut Diduga Kuat Terlibat Mafia Bisnis PCR, Elite PD: Ini Namanya Pengpeng, Penguasa Merangkap Pengusaha!

Luhut Binsar Pandjaitan
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan membantah berbinis penyediaan alat tes PCR/Net

IDTODAY.CO – Politisi partai Demokrat, Yan Harahap memberikan kritik tajam terkait dugaan keterlibatan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam ‘permainan’ bisnis tes PCR.

Yan Harahap menilai bahwa Luhut sengaja memanfaatkan kekuasaan untuk meraup untuk besar diatas penderitaan rakyat dengan bisnis tes PCR.

Deputi Strategi dan Kebijakan Balitang DPP Partai Demokrat itu bahkan menyebut Luhut dengan julukan ‘PengPeng’ atau Penguasa merangkap Pengusaha.

“Hebat ya ini yang dinamakan PengPeng, Penguasa Merangkap Pengusaha,” ujar Yan Harahap melalui cuitannya di Twitter pada 3 November 2021.

Baca Juga:  Soroti "Prestasi" Ahok di Pertamina, Pengamat: Kembali Saja ke Habitatnya!

Ia bahkan menyebut bahwa Luhut sengaja meraup untuk besar diatas penderitaan rakyat lewat adanya kewajiban tes PCR.

Seperti diketahui, nama Luhut masuk dalam daftar jajaran Menteri yang disebut-sebut ikut bermain dalam bisnis tes PCR.

Luhut diduga terlihat dalam bisnis PCR lantaran ada dua perusahaan yang terafiliasi dengannya yakni PT Toba Sejahtera dan PT Toba Bumi Energi yang ikut mengantongi saham di PT GSI.

Menanggapi tudingan tersebut, juru bicara Menko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi menegaskan bahwa tidak ada maksud bisnis dalam keterlibatan Luhut di GSI.

Baca Juga:  Ketua MPR RI: Meskipun Gerindra Gabung Jokowi, Fadli Zon Bukan Malah Duduk Manis

“Tidak ada maksud bisnis dalam partisipasi Toba Sejahtera di GSI, apalagi Pak Luhut sendiri selama ini juga selalu menyuarakan agar harga tes PCR ini bisa terus diturunkan sehingga menjadi semakin terjangkau buat masyarakat,” kata Jodi Mahardi.

Jodi menjelaskan bahwa PT Toba Bumi Energi adalah anak perusahaan Toba Bara Sejahtera. Ia juga menjelaskan bahwa saham Menko Luhut yang dimilikinya di Toba Sejahtera sudah sangat kecil yakni dibawah 10 persen.

“Jadi pak Luhut tidak memiliki kontrol mayoritas di TBS, sehingga kita tidak bisa berkomentar terkait Toba Bumi Energi,” ujarnya.

Baca Juga:  Ungkap Alasan Percepat Muktamar, Rais Aam PBNU: Saya Ditelpon Orang Mengatasnamakan BIN Minta Muktamar Diundur

Lebih lanjut, Jodi mengungkap bahwa awal mula pendirian GSI kala itu bermula saat Luhut diajak para pengusaha dari grup Indika, Adaro, Northstar untuk membantu menyediakan tes Covid-19 dengan kapasitas tes yang besar.

Meski begitu, Jodi memastikan hingga saat ini tidak ada pembagian keuntungan dalam bentuk dividen atau bentuk lain kepada para pemegang saham, salah satunya Luhut.

“Saya lihat keuntungan mereka malah banyak digunakan untuk memberikan tes swab gratis kepada masyarakat yang kurang mampu dan petugas kesehatan di garda terdepan,” pungkasnya.

Sumber: kabes