Mas Menteri Nadiem Harus Baca Dengan Teliti Apa Yang Dilakukan Presiden Duterte

  • Whatsapp
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte/Net
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte/Net (Foto: Rmol.id)

IDTODAY.CO – Peneliti Insititut Riset Indonesia (INSIS), Dian Permata meminta pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan langkah Presiden Filipina, Rodrigo Duterte yang tidak akan membuka kembali kegiatan sekolah hingga ditemukannya vaksin Covid-19.

“Mas Menteri Nadiem Makarim harus membaca pelan-pelan apa yang disampaikan Duterte. Jangan langsung resisten atau menolak langsung. Dikunyah saja dulu, serap apa maksud Duterte,” ucap Dian Permata sebagaimana dikutip dari Rmol.id, Rabu (27/5).

Bacaan Lainnya

Dian mengatakan, virus Corona akan menjadi daerah masyarakat sampai vaksin virus tersebut benar-benar ditemukan dan mampu memberikan rasa aman pada masyarakat.

Baca Juga:  Jawaban Mengejutkan Nadiem Makarim Atas Usulan Memasukkan Etika Internet dalam Kurikulum Pendidikan

Dian melanjutkan, Duterte merupakan sosok pemimpin yang menggunakan pendekatan pro life dalam mengeluarkan kebijakan di tengah pandemik Covid-19, khususnya soal larangan berkegiatan di sekolah.

“Kasus beberapa negara yang kembali membuka kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di sekolah berbuah terinfeksinya murid menjadi pelajaran beharga bagi Kemendikbud sebelum benar-benar ingin membuka sekolah,” tegas Dian.

“Korea Selatan, Prancis, dan Filandia adalah secuil negara yang mengevaluasi pasca terpaparnya sejumlah murid lantaran KBM di sekolah kembali aktif. Padahal, ketiganya adalah negara yang boleh dibilang literasi dan sistem kesehatan sudah dianggap baik,” lanjut Dian.

Dian mengatakan, Menteri Nadiem harus mulai memikirkan insentif bagi orang tua murid apabila KBM di Indonesia ditiadakan dan mengandalkan sekolah jarak jauh

Baca Juga:  Analisis Abraham Samad: Djoko Tjandra Berhasil ‘Membeli’ Nasionalisme Seseorang

Kemudian menurut Dian, Kemendikbud harus membuat formula relaksasi bagi orang tua murid yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Misalnya masalah SPP, karena Covid-19 juga menggerus pendapatan orang tua murid.

“Banyak kekecewan bahwa iuran SPP anak tidak turun. Padahal KBM hanya lewat daring. Ada perpindahan proses dan tidak gunakannya fasilitas milik sekolah seperti gedung, AC, listrik, dan lainnya. Semua komponen tersebut dibebankan ke orang tua murid,” tandas Lulusan Magister Universitas Sains Malaysia ini.[Brz]

Pos terkait