Rocky Gerung: Ganti Presiden Lebih Mudah daripada Urus Mafia Tanah

Rocky Gerung: Ganti Presiden Lebih Mudah daripada Urus Mafia Tanah
Foto: Law-Justice saat mengunjungi kediamannya Rocky Gerung (Foto: Firman/Law-Justice)

IDTODAY.CO – Siapa tak kenal Rocky Gerung, ahli filsafat dari Universitas Indonesia yang belakangan sering muncul sebagai pengkritik kekuasaan. Namanya melambung tinggi sejak lantang mengkritik kebijakan pemerintahan Joko Widodo, dengan gayanya yang satir.

Lawan-lawan debatnya sering kelimpungan menghadapi Rocky Gerung karena basis argumentasi pria kelahiran 20 Januari 1959 itu kental dengan falsafah politik. Filsafat politik adalah satu kajian yang tidak terlalu popular, tapi sejak ada Rocky, semua orang mungkin kini mulai tertarik mendalaminya.

Nama Rocky Gerung sebetulnya tidak asing bagi para aktivis reformasi 1998. Rocky Gerung merupakan salah satu tokoh intelektual yang menggerakan mahasiswa untuk menggulingkan Orde Baru.

Rocky Gerung adalah jebolan Fakultas Ilmu Budaya UI yang sangat mahir dalam kajian ilmu filsafat dan politik. Dia bahkan dipercaya untuk menjadi pengajar di departemen filsafat UI, padahal Pendidikan terakhirnya hanya Strata 1.

Bersama Abdurrahman Wahid dan Azyumardi Azra, Rocky Gerung adalah pendiri Lembaga advokasi HAM dan keberagaman, SETARA Institute.

Meski sudah malang melintang di dunia pergerakan dan intelektual, saat ini Rocky lebih dikenal sebagai pengamat politik yang garang terhadap kekuasaan. Dia sering menjadi pilihan utama dalam setiap pembahasan isu-isu politik yang menyangkut kebijakan pemerintah. Bahkan kita saat ini sering mendengar istilah ‘No Rocky, No Party’.

Rocky memiliki kanal YouTube dan menyumbangkan pendangannya di sana. Dia juga garang di media sosial, bahkan sering dianggap sebagai salah satu bagian dari oposisi pemerintah. Berkali-kali Rocky menegaskan, dia tidak punya sentiment pribadi dengan pejabat manapun. Dia hanya melakukan tugas sebagai fungsi kontrol sosial terhadap kekuasaan dan kebijakan yang menyimpang.

Dengan segala kepopuleran yang dimiliki oleh Rocky Gerung saat ini, perusahaan pengembang properti PT Sentul City mengusik rumahnya di Blok 026 Kampung Gunung Batu RT 02 RW 11, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Baca Juga:  Jokowi Heran Indonesia Dikerdilkan dalam Negeri Sendiri, Fahri Hamzah: Coba Evaluasi Kabinet

PT Sentul City telah melayangkan somasi sebanyak 3 kali kepada Rocky Gerung sejak Juli lalu. Sentul City mengklaim bahwa tanah 800 meter yang ditempati Rocky, adalah milik perusahaan tersebut. Raja Properti di Bogor itu mengaku memiliki surat-surat lengkap SHGB Nomor 2411 dan 2412, dan Rocky harus angkat kaki.

Terang saja Rocky Gerung berang karena hunian yang sudah dia tempati sejak tahun 2009 diusik. Rocky Gerung dan kuasa hukumnya, Haris Azhar, memilih melawan. Memunculkan Kembali persoalan agraria di Indonesia yang identik dengan praktik mafia tanah.

Pada Senin (1/11/2021), Law-Justice.co berkesempatan untuk mengunjungi Rocky Gerung di kediamannya. Kami menyaksikan sendiri bagaimana Rocky telah merawat alam dengan membangun sebuah konsep hunian green living.

Rocky Gerung (RG) menyiapkan dua tandan pisang yang digantung di beranda rumahnya. Satu tandan di beranda rumah utama, satunya lagi di beranda gazebo yang letaknya di bawah rumah utama. Sekilas Sepertinya ini bagian dari ritual Rocky untuk menyambut tamunya agar makan Buah segar dari kebunnya.

Rumah Rocky punya nilai lebih dari sekedar budaya kekerabatan lokal. Pisang itu bukan saja untuk dimakan orang, tetapi dia sengaja menyiapkannya untuk monyet-monyet hutan yang mampir ke rumahnya.

Dalam tiga tahun terakhir monyet liar memang sudah meresahkan warga sekitar Bogor karena kerap kali masuk ke pemukiman penduduk bahkan menyerbu pasar tradisional. Rocky sadar, monyet-monyet itu kelaparan akibat habitatnya telah dirusak oleh pembangunan kawasan perumahan. Setiap malam atau pagi monyet-monyet ini mampir ke rumah RG untuk menikmati pisang gratis.

Apa yang dilakukan RG sejak tinggal menetap di kawasan Sentul, tepatnya Bojong Koneng, bukanlah seperti layaknya orang Jakarta memiliki vila-vila mewah di kawasan Puncak. Rumahnya lebih tepat disebut gubuk panggung. Ini dikarenakan kemiringan tanahnya yang tidak cocok untuk dijadikan rumah beton.

Dengan bentuk rumah panggung, maka air buangan atau air hujan dapat terserap tanah 100 persen karena tidak tertutup beton. Sehingga tidak merusak keseimbangan neraca air yang dapat menyebabkan longsor dan banjir.

Baca Juga:  Andika Perkasa Sangat Mungkin Jadi Panglima TNI, Agar Indonesia Ditakuti China

Selama lebih dari 15 tahun hidup di situ RG menanam ribuan pohon pinus yang kini tingginya sudah menantang langit dan akhirnya ikut ditebang buldoser milk PT Sentul City. Juga tanaman hias seperti Anggrek, Hanjuang, Nona Makan Sirih, pohon buah-buahan dan lain-lain. RG mengkreasikan hutannya sendiri, di mana dia merasa menemukan kehidupan sejatinya.

Dia bukan hanya melakukan konservasi alam, melainkan preservasi lingkungan, yaitu upaya untuk mempertahankan kondisi saat ini dari suatu wilayah, unit biologis atau ekosistem agar tidak dirusak oleh aktifitas manusia.

Hari ini sulit menemukan orang kota yang masih serius memikirkan kelestarian lingkungan seperti RG.Kehidupan metropolitan yang materialistik membawa nilai-nilai baru, seperti keindahan dan kemegahan kota, efisiensi, serta mengutamakan profit yang pelan-pelan menggerus nilai-nilai lama.

Rocky Gerung bercerita, konsep konservasi yang dia terapkan itulah yang menjadi alasan mengapa kediamannya saat ini diusik oleh pengembang. Setelah sengketanya dengan PT Sentul City ramai diliput media, kasus itu tiba-tiba berhenti.

Banyak orang menilai ada kesepakatan damai antara Rocky dan Sentul City, tapi Rocky membantah itu. Dia bilang, tidak ada perdamaian, yang ada adalah penghentian somasi dari pihak Sentul City.

“Intinya sudah tidak ada penggusuran. Stop sudah,” kata Rocky kepada Law-Justice.

Perjuangan Rocky melawan pengembang tidak sendiri. Dia bersama ratusan kepala keluarga yang juga huniannya terancam akan digusur. Hebatnya, Rocky berani menjamin bahwa masyarakat di sekitarnya itu pun tidak akan digusur oleh Sentul City.

“Gue jaminin, kalau lu mau gusur rakyat, gusur gue dulu,” ujar dia.

Rocky mengatakan, pihaknya saat ini sedang mengurus persoalah legalitas tanah dan hak milik agar suatu saat tidak lagi diusik. Rocky ingin, masyarakat di sekitar Bojong Koneng bukan hanya tidak digusur, tapi juga dirawat kelestarian tempat tinggalnya.

Baca Juga:  Sri Mulyani Ungkit Beban Utang Era Reformasi, Rizal Ramli: Makin Ngawur, Ngeles Kok Kebangetan

“Gue pastikan kampung tidak akan digusur. Hak hidupnya bukan hanya dijaga, tapi juga harus dirawat.”

Sejak awal, Rocky sadar bahwa tidak mudah berkonflik dengan korporasi besar, apalagi terkait dengan sengketa lahan dan mafia tanah. Pria asal Manado itu mengatakan, konflik agraria di Indonesia sudah sangat sulit untuk dientaskan karena terhubung langsung dengan kekuasaan.

“Lebih mudah mengganti presiden dari pada mengurus yang beginian. Semua ini berujung di istana dan sudah berlangsung puluhan tahun,” ungkap Rocky.

Rocky mencoba menjelaskan argumentasinya. Dia menyebut bahwa hubungan kekuasaan dan korporasi adalah sesuatu yang sulit untuk dipisahkan karena terus dijaga sampai saat ini.

“Eksploitasi korporasi terhadap rakyat, itu muaranya adalah eksploitasi kekuasaan terhadap korporasi. Persoalan mafia tanah itu sangat berat karena menyangkut struktur kekuasaan di atas,” pungkas Rocky.

Walau begitu pun sulitnya, Rocky tidak mau tunduk pada kekuasaan sewenang-wenang. Manakala eskavator menggaruk bumi dan tanahnya, dia tetap melawan. Menggaruk bumi adalah lambang kesombongan modal dan kekuasaan.

Seperti halnya senjata mematikan, eskavator yang dikendalikan oleh moral maka dia akan bekerja untuk kebaikan manusia seperti digunakan dalam normalisasi atau regularisasi sungai. Tetapi ketika dikendalikan oleh nafsu keuntungan bisnis semata maka dia akan digunakan untuk merobohkan pohon-pohon hutan, merusak ekosistem, dan menyingkirkan kehidupan sebagian manusia lainnya.

Seharusnya, apa yang telah dirintis Rocky Gerung dengan melakukan preservasi lingkungan di rumahnya di Sentul, dapat menjadi inspirasi bagi Pemerintah Daerah setempat atau para pengembang untuk ikut melestarikan lingkungan.

Sudah terlalu lama negeri ini berhadapan dengan pengembang besar yang hanya mengeruk keutungan besar dari perusakan lingkungan dan konflik pertanahan yang seringkali terjadi pada setiap pembangunan kawasan perumahan. Selama ini, rakyat selalu diam, tapi tidak untuk kali ini. Hanya ada satu kata LAWAN!!

Sumber: lawjustice