Rocky Gerung Sebut Ganjar Dianggap Milenial Bodoh, JoMan `Ngamuk`

Rocky Gerung Sebut Ganjar Dianggap Milenial Bodoh, JoMan `Ngamuk`
Presiden Jokowi dan Ketua Umum Relawan Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer. (Foto: Megapolitan.antaranews.com/Ist)

IDTODAY.CO – Pernyataan Pengamat Politik, Rocky Gerung yang menyebut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Ketua DPR RI, Puan Maharani dianggap milenial orang bodoh menuai kritik.

Kelompok Relawan Jokowi Mania (JoMan) yang kini mendukung Ganjar untuk Pilpres 2024, menilai Rocky memiliki pola pikir sinisme dan mental kolonialisme.

“Dia ingin menjajah pikiran orang lain dengan memaksakan pikirannya,” ujar Ketua Umum JoMan, Imanuel Ebenezer kepada wartawan, Minggu (17/10/2021).

Ia menyayangkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Rocky Gerung tersebut. Sebab, menurutnya, pernyataan Rocky soal Ganjar-Puan ditolak milenial itu tidak dibekali fakta.

“Tidak ada argumentasi dia yang dibekali fakta bahwa Ganjar dan Puan ditolak milenial. Harusnya sekelas beliau punya modal fakta,” kata Noel, sapaan akrabnya.

Dengan demikian, kata Noel, pemikiran Rocky dinilai sinis dan hanya asal bicara. Lebih jauh, Noel menuturkan bahwa pernyataan itu dilandasi motif kebencian.

Baca Juga:  Abdul Wachid: Orang-Orang BUMN Harus Bersih Dari Kepentingan Politik Praktis

“Asal bicara dan berbeda karena lebih didasari motif kebencian,” katanya.

Noel mempertanyakan basis fakta dalam pernyataan Rocky yang menyinggung elektabilitas Ganjar-Puan pada pemilihan presiden tahun 2024 tersebut.

Ia mencontohkan, basis fakta yang bisa digunakan yaitu berdasarkan hasil survei dari lembaga survei yang dapat dipercaya.

“Ini kan tidak ada. Kalau dia berbicara atas nama milenial, dia sudah orang tua bahkan terlalu tua untuk berkumpul dengan milenial,” tegas Noel.

Ia menilai, ada sejumlah faktor yang menyebabkan Rocky dianggap olehnya sebagai orang yang gemar sinisme. Pertama, menurut Noel, Rocky merupakan tipikal manusia antisosial yang senang dengan kesendirian. Kedua, ujar Noel, dari kesendirian itu muncul rasa amarah terhadap lingkungan sekeliling.

“Dari krisis kepercayaan karena trauma masa lalu akhirnya menjadi delusi politik. Seperti itulah yang terjadi pada Rocky,” ujar Noel.

Baca Juga:  Antisipasi penyebaran Corona Saat Pilkada, Menko Polhukam: Pemerintah Telah Habiskan Rp 5 Miliar

Noel melanjutkan, perilaku delusi politik itu lantas melahirkan perilaku kolonialisme pemikiran atau karakter menjajah pemikiran tanpa dibekali fakta yang akurat.

Menyoal targetnya, Noel menilai bahwa pernyataan Rocky hanya untuk menarik perhatian.

“Salah satu indikator orang yang delusi politik adalah butuh pengakuan dan perhatian. Pernyataan Rocky itu memenuhi syarat sebagai delusi politik,” kata Noel.

Dalam diskusi `Memprediksi Kemunculan Capres ala Pembagian Wilayah Penanganan Covid (Jawa Bali – Non Jawa Bali)` yang digelar KedaiKOPI, Jumat (15/10), Rocky menyinggung kaum milenial di Indonesia. Menurutnya, kaum milenial heran terhadap isu politik Tanah Air.

“Saya berdiskusi dengan kaum milenial. Mereka mendengar kekonyolan-kekonyolan dalam politik kita, banteng vs celeng. Dia bingung,” katanya.

Kaum milenial, kata Rocky, perlu tokoh-tokoh yang unjuk gigi dari segi akademis. Salah satunya soal gender quality hingga human rights.

Baca Juga:  Anies 2 Kali Absen di Reuni 212 hingga Tak Beri Izin, Ini Analisis Pengamat Politik

“Kok kita nggak denger ya Puan ngomong itu. Om yang rambutnya kayak bintang film putih itu, Ganjar Pranowo, ngomong itu. Kok kita nggak lihat Kang Emil ngomong. Society 5.0 isinya intellectuality, human rights, gender equality. Mereka nggak dapet itu,” imbuh dia.

Karena itu, menurut Rocky Gerung, berupaya menaikkan elektabilitas Ganjar ataupun Puan adalah hal yang konyol. Sebab, kaum milenial ingin sosok calon presiden yang concern pada gender equality hingga demokrasi.

“Jadi konyol kita berupaya menaikkan elektabilitas Ganjar, padahal bagi milenial itu orang bodoh. Demikian juga Puan. Sama, mereka anggap ini orang nggak ngerti. New grammar of world`s politic adalah gender equality, democracy, human rights,” ujar Rocky Gerung.

Sumber: lawjustice