Kisah Pilu Tiga Bersaudara Berjuang Hidup Dalam Kelumpuhan

Kisah Pilu Tiga Bersaudara Berjuang Hidup Dalam Kelumpuhan
Tiga saudara lumpuh saat ditemui Radar Sampit di kediamannya, Desa Bapinang Hilir, Kecamatan Pulau Hanaut, pekan lalu. (Foto: Heny/Radar Sampit/JPG)

IDTODAY.CO – Tiga bersaudara, Bahrudin, Wati, dan Jiah harus merasakan pahitnya kehidupan lantaran harus bertahan hidup dalam kondisi lumpuh dan tak berdaya. Mereka bertiga memasuki usia senja nya dalam keadaan tidak berdaya dan hidup bersama dalam satu rumah.

Sebagaimana dikutip dari Jawa pos pada Selasa, 7 Juli 2020, ke tiga bersaudara tersebut merupakan  warga Desa Bapinang Hilir, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Wati, 44,  salah satu diantara ketiganya Sudah belasan tahun wanita itu menderita lumpuh di kedua kakinya. Sosok perempuan bertubuh. terlihat keningnya tampak berkerut saat menyambut kedatangan teman-teman dari radar Sampit.

Tampak raut keheranan dari wajahnya karena kedatangan orang yang tidak pernah dia temui sebelumnya. Akan tetapi perlahan, dia mulai menanggapi dengan normal setelah teman-teman mengenalkan diri.

Saat ditemui, Wati sedang memakai baju hitam bermotif batik dengan celana panjang berwarna abu-abu. dia hanya bisa diam selama radarsampit datang menemuinya. Dari tempatnya duduk terlihat seorang lelaki yang sedang terbaring lemas dan hanya menggunakan sarung. Dia juga terlihat sangat kurus sehingga tulang rusuknya terlihat dengan jelas. Satu tangannya sambil ditekuk dan satunya yang lain menjadi tumpuan kayu ulin lantai rumah tersebut. Dialah Bahrudin, 48, yang merupakan saudara tertua dari ketiganya.

Satu orang lagi penghuni rumah tersebut. Adalah Jiah, 40, yang juga mengalami kondisi mirip dengan kedua saudaranya. Saat itu, dia sedang mengenakan baju merah muda bermotif Hitam putih dibalut dengan celana panjang berwarna abu-abu. Saat itu dia sedang berada di dapur.

Jiah terdengar lancar berkomunikasi berbeda dengan Wati yang hanya duduk menyendiri. Wati diketahui juga tidak fasih berkomunikasi. Wati juga terlihat jatuh sendiri ketika sudah beberapa lama duduk. namun masih lebih parah kondisi Bahrudin yang hanya terbujur kaku tanpa suara.

Saat ditemui, Jiah baru saja menyelesaikan pekerjaannya mengepas 8 siung bawang merah yang diletakkan di atas cobek di dekat 2 baskom yang ada di depannya.

Seraya membuka baskom yang tertutup berisi potongan ayam, Jiah Mengatakan, “Ini mau masak ayam. Sudah dibumbu, tinggal masak buat makan malam,” kata Jiah.

Jiah kemudian melihat ke alat penanak nasi listrik berukuran sedang berwarna putih. ”Nasi juga sudah dimasak,” katanya.

Dari hasil pantauan, Jiah sangat gesit ketika memasak meskipun terlihat kakinya ditekuk. Dia tetap bisa mandiri dalam keterbatasan fisiknya.

Ketiga bersaudara ini tinggal di atas rumah panggung berkonstruksi kayu. Rumahnya dipoles berwarna biru dengan cat yang sudah terlihat usang.

Sedangkan dapur mereka terdapat tilam lengkap dengan kelambu berwarna merah magenta. Disitulah biasanya Wati beristirahat. Adapun Jiah tidur dikamar tengah. Sedangkan Bahrudin harus tidur seorang diri di atas tempat tidur kayu.

Jiah terlihat lengan kirinya sedang terluka karena beberapa hari yang lalu dijatuhi kaca. Namun, namanya luka tersebut sudah mulai mengering walaupun belum sembuh total. ”Sudah mau sembuh,” ujarnya.

Jiah bercerita bahwa dia mengalami kelumpuhan sejak usia 5 tahun. Bertahun-tahun dia berjalan dengan ditopang tongkat kayu. Malah, 3 tahun terakhir kedua kakinya semakin lemah dan tidak lagi bisa berdiri tegak. ”Dulu masih bisa belanja ke warung bawa tongkat. Sekarang berdiri saja sulit,” urainya.

Jiah merupakan yang paling kuat diantara saudaranya yang lain. dia masih bisa berdiri meskipun harus memegang dinding untuk menopang langkahnya.

Saat itu, kebetulan Murjini, 29, sedang mengunjungi ketiganya. Sejak Kamis (2/7) lalu dia pulang karena Bahrudin dalam kondisi sakit.

”Saya bekerja jadi buruh sawit di perusahaan PT TAS di wilayah Kecamatan Parenggean. Dapat kabar abang (panggilan kakak laki-laki, Red) dikabarkan sakit asma dan semakin parah kondisinya dan Nenek juga sakit tinggal di rumah yang berbeda tetapi dekat sini saja,” urai Murjini.

Menurut penuturan Murjini, ketiga saudara kandungnya yang mengalami lumpuh tinggal bertiga dalam satu atap, sementara dia bekerja di Parenggean.

”Saya tidak tinggal di sini karena sulit mencari pekerjaan. Ini pun saya terpaksa izin karena keluarga sakit. Saya harus kembali ke Parenggean sore hari untuk kembali bekerja,” ucapnya.

Kata Murjini, kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Ibunya, Maryana, lebih dulu meninggal dunia pada tahun 2006. Disusul ayahnya, Mas’ud, pada tahun 2009. Sejak orang tuanya meninggal, tak ada keluarga yang bisa mengurusnya.

”Ada saja amang (paman, Red) tetapi kondisinya sudah tua, jadi tidak bisa maksimal mengurusi saudara saya yang lumpuh,” urainya.

Murjini merupakan satu-satunya yang normal dari dari lima bersaudara. Saudara sulungnya, Bahrin, telah meninggal dunia. Sedangkan tiga saudaranya lumpuh dan hanya Murjini yang normal.

”Abang (Bahrudin, Red) baru satu minggu ini saja terbaring lemas. Sebelumnya masih bisa berjalan dengan merangkak. Asmanya juga sering kambuh,” urainya.

Selama dia di Parenggean, Murjini berusaha menjadi tulang punggung keluarga. Membantu semampu yang dia bisa. Diataranya membeli keperluan Bahrudin yang akrab disapa Ondoi. ”Abang tak bisa lepas dari obat. Asmanya sudah parah dan harus minum obat,” ujarnya.

Saudara-saudaranya Murjini dengan segala keterbatasannya masih bisa mengurus semua kebutuhan sendiri. mereka masih berkecukupan kalau hanya untuk keperluan makan dan minum dengan bantuan dari pemerintah.

Dari semua keluarganya, hanya Bahrudin tercatat sebagai warga penerima program keluarga harapan (PKH) dan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Sayangnya, saudaranya yang lain tidak ada yang memiliki KTP.

”KTP tak ada. Kartu Keluarga (KK) ada, tetapi itu datanya ada kesalahan dan kepala keluarga masih almarhum abah (Mas’ud, Red), belum diperbarui,” ucapnya.

Sedangkan Wati menjadi satu-satunya yang memiliki kartu JKN-KIS atau kartu BPJS dengan hanya mengandalkan KK. ”Wati sudah punya Kartu BPJS, tetapi semua belum punya KTP. Waktu itu buat pakai KK saja,” ujarnya.

Menurut Nurminah, 65, bibi mereka, ketiganya tidak mengalami lumpuh sejak lahir. Wati lebih dulu mengalami gejala sakit. ”Sekitar umur sepuluh tahun dia sakit demam dan kejang-kejang. Tidak lama kakinya mulai kesulitan bergerak. Setelah itu Bahrudin yang lumpuh,” ujarnya.

Bahkan, Bahrudin ketika masih remaja bisa bermain sepak bola dan bisa bekerja menjadi pemotong kayu. ”Bahrudin sudah sakit lumpuh sekitar usianya 15 tahun. Jalannya merangkak, tetapi masih kuat beraktivitas,” ujarnya.

Bahruddin juga pernah menikahi seorang perempuan dari Desa Kuin dan memiliki anak berusia sekitar sepuluh tahun. Namun Malang tak dapat ditolak,istri dan anaknya meninggalkan dia dalam keadaan tidak berdaya.

”Anaknya ada satu. Tetapi istrinya meninggalkannya karena Bahrudin sudah tidak bisa memberi nafkah. Terakhir ketemu saat anaknya lahir, minta tanda tangan untuk akte kelahiran anak. Setelah itu istrinya tak pernah datang kemari lagi,” ucapnya.

Lebih lanjut, Ketua RT 1, Azis Muslim menegaskan, pihaknya selalu berupaya membantu saat ketiga bersaudara itu kesulitan. ”Warga sekitar sini berharap ada orang yang bisa merawat. Sudah ada, tetapi bayarannya belum jelas,” urainya.

Sedangkan Kepala Desa Bapinang Hilir Bahriansyah membenarkan bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengurus pembuatan KTP elektronik untuk ketiganya. Namun, hingga saat ini masih belum ada respon positif dari pemerintah.

”Sudah ada bantu mengurus, tetapi kondisi warga kami tidak mungkin ke kota. Pihak Disdukcapil mungkin juga kesulitan karena harus datang jauh-jauh kemari melakukan perekaman,” pungkasnya.[brz/nu]

Pos terkait