Reaksi Heran Iwan Fals Terkait Kalung Antivirus Covid-19

Iwan Fals
Aksi Iwan Fals konser bertajuk Untukmu Indonesia di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (21/11/2015). Konser ini merupakan mimpi terpendam Iwan Fals yang ingin membuat konser megah. Melalui konser ini Iwan Fals juga ingin menunjukkan wujud cintanya kepada Indonesia melalui lirik lagu. (Foto: KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES)

IDTODAY.CO – Musikus kondang Iwan Fals ikut menyoroti kalung yang disebut-sebut penangkal virus penyebab COVID-19. Penyanyi legendaris itu melalui akunnya di Twitter terkesan kaget dengan kalung antivirus corona temuan Kementerian Pertanian (Kementan) itu.

Tokoh musik nasional, Iwan fals ikut bersuara terkait penemuan heboh Kementan tentang kalung anti-virus Corona. Pelantun lagu Oemar Bakri tersebut terdengar kaget dalam postingan di akun twitternya.

Bacaan Lainnya

“Hah “Kalung Antivirus… Serius…,” ujar Iwan melalui akun @iwanfals di Twitter, Senin (6/7).

Iwan Fals menuliskan cuitannya tersebut dengan menyertakan screenshot sebuah portal berita. Dia kemudian menambahkan cuoption “Keren,” dalam postingannya.

Sebelumnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengklaim telah berhasil menemukan kalung anti Corona berbahan dasar pohon kayu putih atau eucalyptus. Penemuan tersebut sudah memiliki hak paten dari Kementan dalam bentuk produk aromaterapi.

Menurut hasil penelitian,  Balitbang menyimpulkan Eucalyptus mampu membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus corona. Akan tetapi, produk teman Balitbang tersebut bukan obat oral maupun vaksin.

Kementan menggandeng PT Eagle Indo Pharma untuk pengembangan dan produksi produk tersebut yang nantinya akan dikemas dalam beragam bentuk seperti kalung inhaler, roll on, salep, balsem, dan diffuser.

Kalung aromaterapi eucalyptus tersebut menurut Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian (Kementan) Indi Dharmayanti  merupakan salah satu dari 5 varian yang berpotensi sebagai anti virus.

“Ini bukan jimat, bukan sihir, itu hanya semacam aksesoris aroma terapi,” ucap Indi.

Demikian pula disampaikan oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry. Menurutnya, tanaman tersebut merupakan salah satu ikhtiar pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam menyikapi pandemi covid yang tengah mewabah, langkah ini juga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menghargai dan mendukung karya anak bangsa. 

“Para peneliti di Balitbangtan ini juga bagian dari anak bangsa, mereka berupaya keras menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsanya, semoga hal ini mampu menjadi penemuan baik yang berguna bagi kita semua” jelas Fadjry dalam pernyataan resminya, Senin (6/7).

Menurut Fadjry minyak atsiri eucalyptus citridora bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.

Dari dulu,bEucalyptus dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, kemudian menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut.

 Menurut Fadjry, laboratorium tempat penelitian eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosavety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner. Penemuan tersebut disimpulkan melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan.

Sejak 10 tahun lalu Virologi Kementan sudah melakukan penelitian dan memang mereka tak asing dalam menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona dan gamma corona.

“Setelah kita uji ternyata Eucalyptus sp. yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus corona. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus,” ucapnya.

Hingga saat ini menurut Fadjry, memang banyak negara yang sedang berupaya untuk segera menemukan anti virus Corona termasuk Indonesia. Karenanya, pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga (K/L) terus mencoba mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah serta menangani virus corona (Covid-19).  

“Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan, paling tidak ini bagian dari upaya kita, minyak eucalyptus ini juga sudah turun menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah, sudah puluhan tahun lalu orang mengenal eucalyptus atau minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya, tetapi masih satu famili hanya beda genus di taksonomi,” ucapnya.[brz/nu]

Pos terkait