Laba Emiten Tambang Milik Luhut Melesat 218%, Apa Pemicunya?

Luhut Singgung Komentar IMF: Indonesia Masih Pelit Soal Rasio Utang
Foto: Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Instagram/Luhut.Pandjaitan)

IDTODAY.CO – Laba bersih PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA), emiten baru bara yang sahamnya juga dipegang oleh Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, melesat hingga 218% pada kuartal I-2020 menjadi US$ 19,37 juta atau setara dengan Rp 275 miliar (kurs Rp 14.200/US$) dari periode yang sama tahun 2019 yakni US$ 6,09 juta.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan TOBA di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Rabu ini (3/6/2020), laba tersebut diraih setelah perusahaan mencetak pendapatan sebesar US$ 167,09 juta atau Rp 2,37 triliun di 3 bulan pertama tahun ini saat pandemi Cobid-19 melanda Tanah Air, dari periode yang sama tahun lalu US$ 109,81 juta, atau naik 52%.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, beban pokok perusahaan juga naik menjadi US$ 136,46 juta dari sebelumnya hanya US$ 88,33 juta.

Laba bersih itu juga ditopang dengan sokongan laba selisih kurs sebesar US$ 2,83 juta dari sebelumnya yang mengalami rugi kurs US$ 420.088. Selain itu, TOBA juga mendapatkan pendapatan dividen US$ 2,15 juta, ditambah dengan adanya pendapatan lain-lain sebesar US$ 7,76 juta.

Pendapatan terbesar berasal dari penjualan batu bara ke pasar luar negeri senilai US$ 86,24 juta dari sebelumnya US$ 83,52 juta, sementara penjualan batu bara di pasar lokal hanya menyumbang US$ 1,29 juta dari sebelumnya US$ 4,65 juta.

Paling signifikan pendapatan dari bisnis konstruksi yang mencapai US$ 78,34 juta, dari sebelumnya hanya US$ 20,26 juta atau melesat 287%. Sementara sisa penjualan dari tandan buat segar sebesar US$ 1,21 juta turun dari sebelumnya US$ 1,39 juta.

Bisnis konstruksi TOBA di antaranya termasuk pertambangan dan pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin, industri pengolahan, pengangkutan dan pergudangan serta aktivitas profesional, ilmiah dan teknis (jasa).

Di luar kinerja bisnis ini, Pingkan Ratna Melati, Corporate Secretary TOBA, juga menyampaikan dampak Covid-19 terhadap operasional perusahaan. Pembatasan kegiatan operasional berlaku pada seluruh kantor TOBA dan entitas anak yang berlokasi di Jakarta dan di luar Jakarta.

“Untuk kantor yang berlokasi di Jakarta, kegiatan kerja dilakukan dengan sistem work from home, namun demikian premis kantor tetap buka untuk penerimaan surat menyurat dan dokumen,” katanya, dalam surat kepada BEI.

“Untuk fungsi kantor support di bisnis pertambangan, kegiatan kerja dilakukan dengan sistem shift. Karyawan dibagi dalam jadwal shift, bergantian untuk 1 minggu bekerja di kantor dan 1 minggu bekerja di rumah (work from home),” jelasnya.

Dia menjelaskan bahwa perseroan selalu memantau kondisi pasar komoditas batu bara untuk mendapatkan harga terbaik atas produk Perseroan. Selain itu, perseroan juga senantiasa melakukan evaluasi atas kegiatan Perseroan serta tetap menggali potensi efisiensi di setiap lini kegiatan usaha TOBA.

“Perseroan juga secara aktif melakukan langkah-langkah pencegahan dan antisipatif dari penyebaran Covid-19 sehingga meminimalisasi gangguan atas kegiatan usaha perseroan.”

Tahun lalu, laporan keuangan mencatat, laba TOBA mencapai US$ 26,55 juta, turun 30% dari 2018 yakni US$ 37,79 juta. Penurunan laba bersih itu terjadi di tengah pendapatan perusahaan yang justru naik. Pendapatan TOBA tahun lalu naik 20% menjadi US$ 525,52 juta dari sebelumnya US$ 438,44 juta atau Rp 7,02 triliun.

Data lapkeu tersebut mencatat, TOBA dikendalikan oleh Highland Strategic Holdings Pte. Ltd (HSH). Perusahaan ini adalah perusahaan investasi yang berdomisili di Singapore beralamat di 3 Jalan Pisang, Singapore 199070. HSH memiliki fokus investasi khususnya pada sektor energi di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kegiatan utama TOBA yakni investasi di bidang pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit dan pembangkit listrik mandiri melalui entitas anak.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut sebelumnya membeberkan kepemilikan sahamnya di TOBA yang dimiliki lewat PT Toba Sejahtra.

“Saya mempunyai saham di Toba Bara Sejahtra, tapi sekarang saya tinggal 10 persen di situ [Toba Bara Sejahtra], itu saja,” kata Luhut di kantornya, Rabu (27/2), dikutip CNN Indonesia.

Per Desember 2019, secara detail, pemegang saham TOBA yakni HSH sebesar 61,91%, Bintang Bara BV 10%, PT Toba Sejahtra 10%, PT Bara Makmur Abadi 6,25%, PT Sinergi Sukses Utama 5,10%, dan publik 6,74%.

Sumber: cnbcindonesia.com

Pos terkait