Hukum  

Hukuman Singkat-`Tetap Kaya`, Ini Keistimewaan Koruptor di Indonesia

Hukuman Singkat-`Tetap Kaya`, Ini Keistimewaan Koruptor di Indonesia
Ilustrasi koruptor (balikpapanku.id)

IDTODAY.CO – Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) menilai sistem hukum di Indonesia terlalu ramah bagi terpidana korupsi.

Buktinya menurut Peneliti Pukat UGM, Zaenur Rohman, selain hukuman penjara yang singkat, negara juga masih tampak lemah dalam penarikan aset hasil tindak pidana korupsi.

Dia melihat rata-rata hukuman penjara bagi tindak pidana korupsi hanya 2 atau maksimal 4 tahun saja. Sementara rata-rata sanksi pidana yang dijatuhkan di pengadilan tinggi itu hanya 3,5 tahun.

“Nah, hanya dalam waktu 3,5 tahun tersebut para terpidana korupsi menjalani pidana badan masih diikuti oleh betapa sulitnya bagi Indonesia melakukan recovery asset hasil kejahatan,” kata Zaenur dalam diskusi bertajuk “Menyoal Pembatalan PP 99/2012: Karpet Merah Remisi Koruptor” yang disiarkan YouTube Sahabat ICW, Selasa (2/11/2021).

Baca Juga:  Bareskrim Polri Tetapkan 8 Tersangka Kebakaran Kejagung, Siapa Saja?

Kata Zaenur, negara masih sulit melakukan pemulihan aset hasil kejahatan korupsi. Berdasarkan data yang ia lihat, harta hasil kejahatan tindak pidana korupsi yang bisa dipulihkan negara bahkan tidak sampai 10 persen.

Apalagi kalau misalkan harta dari terpidana korupsi itu ada yang dilarikan ke luar negeri.

“Nah, semakin sulit lagi kalau harta-harta hasil kejahatan disembunyikan, dialirkan atau dilarikan ke luar negeri. Maka Indonesia selalu kesulitan untuk dapat memulangkan aset-aset tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:  Siapa Sebenarnya Ruslan Buton Yang Berani Buat Surat Terbuka untuk Jokowi?

Zaenur mengungkapkan kalau pemulihan aset di Indonesia itu masih sangat konvensional sehingga masih banyak hambatan. Salah satu hambatannya ialah yang tertuang dalam Pasal 18 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi yang membatasi harta hasil kejahatan yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.

“Nah, itu ada hambatan peraturan perundang-undangan, hambatan praktik, sehingga pada intinya pengembalian aset-aset kejahatan itu masih sangat sulit,” tuturnya.

Baca Juga:  Terungkap, Aulia Fahmi Adalah Orang yang Melaporkan Ruslan Buton, Ternyata Orang Yang Pernah Melaporkan Amin Rais

Dengan demikian, Zaenur menganggap kalau terpidana korupsi di Indonesia masih untung besar meski mendekam di balik jeruji besi. Di samping hukuman penjaranya yang sekejap, mereka juga masih bisa menyembunyikan harta hasil tindak pidana korupsinya.

“Jadi mereka masih mungkin untung besar ketika nanti mereka ke luar dari lembaga permasyarakatan, masih banyak aset-aset yang mereka berhasil mereka sembunyikan atau mereka taruh di luar negeri yang itu gagal dirampas oleh negara dengan menggunakan pendekatan pidana,” katanya.

Sumber: lawjustice