Soal Roket Pejuang yang Hantam Negaranya, Israel Tuding PBB Bersikap Bias

Soal Roket Pejuang yang Hantam Negaranya, Israel Tuding PBB Bersikap Bias
Ilustrasi para demonstran muda Palestina terlihat selama demonstrasi di timur Kota Gaza, Jalur Gaza, pada 10 Mei 2019. (Foto oleh AFP)

IDTODAY.CO – Laporan UN Conference on Trade and Development (UNCTAD), Rabu (25/11) mengungkap fakta mencengangkan terkait kerugian besar yang dialami Gaza akibat blokade Israel sejak 2007 silam.

Israel memblokade Gaza pada 2007 setelah Hamas berkuasa di Gaza. Blokade yang diikuti pembatasan ketat oleh Mesir amat membatasi pergerakan orang dan barang yang keluar masuk Gaza. Namun, Israel menyatakan bahwa pembatasan itu diperlukan untuk mencegah Hamas membangun kekuatan militer.

Bacaan Lainnya

Wilayah yang terkepung itu rugi hingga 16,7 miliar dolar AS. Akibatnya, kemiskinan dan pengangguran melejit disebabkan kerugian ekonomi yang teramat besar.

Bukan itu saja, Israel juga kerap menuding PBB bersikap bias terhadap mereka. Misalnya, untuk laporan UNCTAD ini, Israel menunjuk bahwa serangan roket dari Gaza ke kawasan sipil Israel hanya sedikit disebutkan.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Hamas Hazem Qaseem mengatakan, laporan UNCTAD menggambarkan “tingkat kejahatan” yang dilakukan Israel. “Pengepungan ini telah menjadi kejahatan perang sesungguhnya dan mendesak semua sektor layanan di Jalur Gaza menjadi kolaps,” katanya sebagaimana dikutip dari Republika.co.id (27/11).

Sementara itu, Badan PBB yang menangani perdagangan dan pembangunan menyerukan agar blokade Israel segera dicabut.

“Hasilnya menunjukkan perekonomian kawasan Gaza nyaris ambruk dan terisolasi dari perekonomian Palestina dan seluruh bagian dunia,” kata UNCTAD dalam pernyataannya

Laporan tersebut diperoleh dengan menganalisis dampak dari blokade 2007-2018, yang sangat membatasi gerak Gaza untuk mengekspor produk pangan. Kondisi perekonomian Gaza saat ini juga terdampak dari tiga kali perang dengan Israel, yaitu pada 2008-2009, 2012, dan 2014.

Bahkan, penderitaan Gaza semakin parah akibat perang pada 2014. Perang itu juga membuat sekitar 100 ribu warga Gaza kehilangan tempat tinggal karena rumah mereka rusak atau hancur. Sedikitnya, 2.000 warga menjadi korban, malah mayoritas mereka adalah rakyat sipil.

Dilain pihak, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Israel melaporkan, 67 tentara dan tiga warga sipil Israel tewas dalam perang itu. Israel juga menyebut peluncuran roket dari Gaza membuat kehidupan warga Israel selatan mandek.

Mahmoud Elkhafif, koordinator UNCTAD bidang bantuan untuk Palestina mengatakan, laporan itu menggunakan dua metodologi. Analisis itu menghasilkan perkiraan bahwa kerugian ekonomi akibat blokade Israel dan perang berkisar 7,8 miliar hingga 16,7 miliar dolar AS. Perekonomian Gaza hanya tumbuh sebesar 4,8 persen meski populasi tumbuh 40 persen.

Kerugian itu menyebabkan tingkat pengangguran naik dari 35 persen pada 2006 menjadi 52 persen pada 2018. UNCTAD menyebutkan, angka tersebut termasuk tertinggi di dunia.

Tingkat kemiskinan melonjak dari 39 persen pada 2007 menjadi 55 persen pada 2017. Berdasarkan kecenderungan perekonomian sebelum 2007, tingkat kemiskinan diperkirakan sebesar 15 persen pada 2017 jika Gaza tidak diblokade dan tidak mengalami perang.

“Dampaknya adalah kemiskinan rakyat Gaza, yang memang sudah mengalami blokade,” tegas Mahmoud Elkhafif.[Republika/brz/nu]

Pos terkait