Gandeng MUI Sosialisasi Protokol Kesehatan, Doni Monardo: Ini Solusi Terbaik!

Doni Monardo
Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dan Ketua BNPB Doni Monardo. (Foto: ANTARA/Aprillio Akbar)

IDTODAY.CO – Peran vital tokoh agama dan ormas keagamaan dalam upaya penyadaran terhadap masyarakat akan pentingnya protokol kesehatan diakui oleh Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo. Menurutnya, peran tokoh agama tersebut sangat penting untuk mengurangi jumlah positif Covid-19.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2020).

Bacaan Lainnya

“Kehadiran dari tokoh masyarakat memang menjadi hal yang sangat penting. Di tiap daerah kami merasakan apabila tokoh-tokoh agama yang berbicara, masyarakat lebih banyak yang patuh. Kami sudah berusaha mengundang tokoh agama untuk berkunjung ke BNPB, diskusi, dan jadi bagian kampanye perubahan perilaku,” kata Doni sebagaimana dikutip dari okezone.com (4/9/2020)

Atas dasar itulah, Doni mengaku telah menjalin kerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat MoU (memorandum of understanding) atau nota kesepahaman. Tujuannya, supaya MUI bisa membantu mensosialisasikan pencegahan Covid-19 ke masyarakat di berbagai daerah.

“Kerja sama MUI udah ada, udah ada MoU dan mengerjakan program kerja sama dengan MUI sehingga diharapkan bersama-sama untuk sosialisasi secara efektif untuk pencegahan dan perubahan perilaku,” terangnya.

Doni menegaskan, penerapan protokol kesehatan dan perubahan perilaku saat pandemi tidak bisa dilakukan oleh orang kesehatan saja, tapi butuh peran semua pihak yakni pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha dan media yang disebut pentahelix.

“Kita menyadari kolaborasi pentahelix adalah solusi yang terbaik untuk masyarakat kita,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini.

Lebih lanjut, Doni menyinggung banyaknya tenaga kesehatan yang gugur dalam penanganan covid 19. Padahal, Butuh waktu lama untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, tambah juga semakin menipisnya jumlah dokter dan dokter spesialis di Indonesia.

Akibatnya, semakin banyak dokter yang gugur, maka kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan semakin tidak terlayani dengan baik.

“Karena enggak mungkin seorang dokter terbit dalam waktu singkat dan hanya dalam 2-3 tahun. Jadi dokter harus kita lindungi, selamatkan, maka tadi kami laporkan program prioritas kami dengan Kemenkes untuk keselamatan tenaga kesehatan,” pungkasnya.[okezone/brz/nu]

Pos terkait