PBNU Tanggapi Rencana Demo PA 212 dan FPI Soal Karikatur Nabi

KH Yahya Cholil Staquf
Khatib Syuriah PBNU, Yahya Cholil Staquf,(Foto: Kompas.com/Slamet Priyatin)

IDTODAY.CO – Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf menanggapi banyaknya aksi demonstrasi yang mengecam Emmanuel macron terkait penghinaan terhadap simbol Islam.

Bahkan, pada 2 November mendatang, Persaudaraan Alumni 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama pun bakal menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Kedubes Prancis di Jakarta.

Bacaan Lainnya

Terkait hal tersebut, Yahya Cholil mengatakan bahwa dunia Islam sedang menghadapi krisis, sebetulnya ada benarnya karena memang dunia Islam sedang menghadapi krisis.

“karena hingga saat ini belum ditemukan satu konstruksi keagamaan dan sosial yang bisa mengintegrasikan dunia Islami secara damai dan harmonis di seluruh dunia,” katanya sebagaimana dikutip dari Okezone.com (30/10).

“Ada kenyataan itu, enggak bisa dipungkiri. Kalau orang tersinggung, itu karena soal identitas, tapi tidak bisa mengingkari kenyataan memang ada krisis,” imbuhnya.

Akan tetapi, Gus Yahya mengatakan dunia sedang mengalami krisis demikian juga dengan umat Islam.  “Dunia ini sedang bingung. Kita ini berada di persimpangan jalan, berada di dunia ini, peradaban dunia ini mau ke mana. Dan kita belum menemukan pondasi konsensus untuk peradaban masa depan yang kita inginkan bersama,” tuturnya.

Menurutnya, jika kita harus berintegrasi dengan idealisme Prancis yang menganut paham sekularisme ekstrem, hal itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

“Bukan hanya umat Islam yang keberatan, umat Kristen, umat Yahudi juga keberatan untuk menjadi sekularisme ekstrem seperti Perancis maka kaum sekuler juga harus mau berdialog, bukan hanya kaum beragama saja. Nah ini sesuatu yang harus kita pikirkan dengan kontemplasi yang dalam dan dengan dialog yang benar,” urainya.

Lebih lanjut, Gus Yahya mengatakan bahwa kerusuhan dan tindak kekerasan sebagai bentuk protes terhadap pernyataan Macron hanya akan memperparah suasana

“Kita juga harus hati-hati dengan orang-orang yang memperalat agama dan memperalat itu ini untuk kepentingan politik eksklusif, untuk menggalang dukungan politik untuk dirinya sendiri, atau bahkan untuk memicu kekerasan, untuk menghancurkan lawan politiknya. Kita jangan sampai terlibat,” urainya.[okezone/brz/nu]

Pos terkait