Petinggi MPR RI: Hari Santri Adalah Suatu Semangat Dimana Agama Bisa Bertemu dengan Paham Nasionalisme

Jazilul Fawaid
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap anggota DPR RI Jazilul Fawaid. (Foto: JawaPos.com)

IDTODAY.CO – Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri merupakan cerminan agama dapat berjalan selaras dengan nasionalisme. Menurut Jazilul, para santri tidak akan mempertentangkan kepentingan agama dan negara.

Jazilul menyampaikan hal itu saat mengisi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bertema ‘Semangat Hari Santri dan Penguatan Empat Pilar MPR Untuk Indonesia Maju’ di Ciputat Timur, Tangerang Selatan.

Bacaan Lainnya

Selain ratusan peserta yang didominasi anak muda, termasuk para santri, acara ini juga dihadiri oleh anggota MPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mohammad Rano Alfath, Ketua GP Ansor Tangerang Selatan Ahmad Fauzi, Ketua GP Ansor Ciputat Timur Fauzul Arif; dan Rois Syuriah NU Ciputat Timur KH. Imam Abda.

Dalam kesempatan itu, Jazilul juga mengatakan, penetapan Hari Santri didasari pada momen Deklarasi Resolusi Jihad yang dipimpin KH Hasyim Ashari.

Deklarasi Resolusi Jihad menjadi satu rangkaian perjuangan Bangsa Indonesia. Dimulai dari Proklamasi 17 Agustus 1945, Deklarasi Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, dan Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945

“Hari Santri adalah suatu semangat di mana agama bisa bertemu dengan paham nasionalisme,” sebut Jazilul dalam keterangannya, Selasa (20/10). Sebagaimana dikutip dari detik.com (20/10/2020).

Menurutnya, saat ini bangsa Indonesia masih harus berperang. Bukan lagi melawan penjajah, tapi berjuang mengentaskan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Perjuangan itu, menurut dia, butuh semangat dan tekad besar dari para pemuda, termasuk santri.

Ia berharap dengan semangat Empat Pilar dan Hari Santri, apa yang menjadi pekerjaan besar bangsa Indonesia, antara lain melawan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, bisa diselesaikan.

Disisi lain, ia mengaku kecewa sebab bangsa ini justru lebih sibuk memperbincangkan masalah-masalah yang tidak produktif, seperti banyaknya hoaks.

“Untuk itu kita perlu merenungkan kembali apa tujuan kita bernegara,” ungkap Jazilul.[detik/aks/nu]

Pos terkait