Sebut Ada Paradoks dalam Industri Sawit, Ansy Lema: political Will Pemerintah pada Petani Swadaya Masih Minim

Sebut Ada Paradoks dalam Industri Sawit, Ansy Lema: political Will Pemerintah pada Petani Swadaya Masih Minim
Ansy Lema (Foto: Istimewa)

IDTODAY.CO – Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Yohanis Fransiskus Lema menegaskan bahwa, sampai saat ini masih terjadi paradoks yang cukup memprihatinkan dalam industri sawit.

Pria yang akrab dipanggil Ansy Lema menegaskan bahwa penyebab terjadinya paradoks diakibatkan para petani sawit tidak bisa merasakan kan dampak dari sawit itu sendiri dan biodiesel secara signifikan sebagai komoditi unggulan Indonesia.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, justru perusahaan besar sebagai monopoli industri sawit dan biodiesel menjadi satu-satunya yang menikmati hasil sawit secara signifikan.

Pernyataan tersebut disampaikan Ansy dalam diskusi virtual bertema “Monopoli Mata Rantai oleh Industri Biodisel dalam Program B30 di Jakarta, Sabtu (15/8/2020).

“Belum ada keberpihakan dan perlindungan negara kepada petani sawit,” katanya sebagaimana dikutip dari Beritasatu.com.

Ansy mengapresiasi kebijakan Presiden Jokowi terkait transformasi energi dari fosil menjadi energi terbarukan dengan menggunakan kelapa sawit. Namun industri biodiesel harus berdampak pada kesejahteraan petani sawit, bukan mempeparah oligarki.

Namun demikian, menilai political will dari pemerintah masih sangat minim terkait perhatian yang diberikan kepada para petani swadaya. Justru korporasi-lah yang mendapatkan porsi perhatian tersebut secara maksimal.

Padahal pemeritah seharusnya mengintervensi dengan memberikan subsidi bagi petani, membuka akses pasar dan memotong rantai tengkulak. Kemudian meningkatkan kualitas koperasi dan kapasitas petani swadaya agar bisa bersaing dan bermitra dengan korporasi.

“Jika supply chain dan rantai produksi kelapa sawit dibenahi dari hulu ke hilir, dari kementrian hingga pemerintah daerah maka petani swadaya memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan minimal 30 persen dari biodiesel, menambah devisa negara dan ABPD,” tegas Ansy.[beritasatu/brz/nu]

Pos terkait