Wapres Minta Maaf soal Corona, tapi Pembuat Kebijakan Tak Merasa Bersalah, PKS: Kasihan Pak Wapres

Wakil Presiden Ma'ruf Amin
Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Foto: Dok. Setwapres

Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam pernyataan resmi selamat Idul Fitri menyelipkan permintaan maaf kepada masyarakat karena COVID-19 di dalam negeri belum juga hilang. Dalam pernyataan itu Ma’ruf Amin juga meminta masyarakat sabar.

Ketua DPP PKS Ledia Hanifa Amalia mengapresiasi permintaan maaf pemerintah yang disampaikan Ma’ruf tersebut. Sebab sejak awal pemerintah memang abai terhadap bahaya corona.

Bacaan Lainnya

“Meminta maaf itu bagus. Apalagi jika disertai dengan meminta maaf atas kesalahan apa yang dilakukan,” kata Ledia saat dimintai tanggapan, Jumat (22/5).

Berbagai kebijakan yang abai antara lain, penanganan COVID-19 yang serabutan dan tidak memprioritaskan tenaga medis. Namun, meski Ma’ruf sudah meminta maaf, Ledia menduga pejabat pemerintah yang sudah membuat kebijakan tidak merasa bersalah. Hal ini menjadi ironi karena justru Ma’ruf yang meminta maaf

Sebab, tidak ada perubahan kebijakan agar penanganan wabah corona semakin baik. Jika benar-benar merasa bersalah, harusnya diikuti dengan perubahan kebijakan.

“Tidak sinkronnya kebijakan yang dikeluarkan pejabat di pemerintah pusat sehingga membuat pemerintah daerah dan masyarakat bingung, kebijakan yang mencla-mencle dan sebagainya,” sebut Sekretaris Fraksi PKS DPR itu.

“Kasihan Pak Wapres. Sudah meminta maaf atas nama pemerintah, tapi pejabat yang bersangkutan tidak merasa bersalah atas kebijakan dan tindakannya yang amburadul,” sambungnya.

Ledia berpandangan meminta maaf saja tidak cukup, tapi harus dibuktikan dengan kinerja yang lebih baik. Ledia mengingatkan jangan sampai masyarakat menjadi korban.

Terlebih menurut Ledia, data hingga Kamis (21/5) menunjukkan COVID-19 di Indonesia tak menunjukkan tren penurunan tapi justru melonjak. Penambahan kasus pada Kamis (21/5) mencapai hampir seribu orang. Ia yakin hal ini disebabkan oleh kebijakan yang belum juga dibenahi.

“Edukasi yang minim, penanganan kesehatan yang minim, penanganan bantuan sosial yang datanya ngawur, penanganan dampak ekonomi yang tidak tepat plus membiarkan sejumlah orang mengambil kesempatan dalam kesempitan di tengah musibah ini adalah kesalahan besar yang harus segera diperbaiki. Tak cukup hanya dengan meminta maaf,” tandas Ledia.

Sebelumnya, dalam keterangan resminya Ma’ruf Amin membeberkan alasan mengapa corona belum hilang dari Indonesia. Salah satu alasannya karena virus corona memang sulit dihilangkan. Selain itu karena jumlah penduduk yang memang sangat banyak.

Tak hanya itu, Ma’ruf juga menilai masih banyak masyarakat belum mematuhi protokol COVID-19.

“Kami pemerintah mohon maaf karena memang bahaya belum hilang, bahaya corona ini belum hilang,” kata Ma’ruf Amin dalam pernyataan resminya, Kamis (21/5).

Sumber: Kumparan

Pos terkait