Wujudkan The New Indonesia Lewat Protokol The New Normal

Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro
Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro (Foto: Tribun Wow)

IDTODAY.CO – Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro mengatakan bangsa Indonesia harus memanfaatkan protokol new normal yang diputuskan pemerintah sebagai momentum bagi  untuk bangkit dan membenahi kehidupannya kembali.

“Momentum ini harus dilihat sebagai langkah awal untuk mewujudkan ketahanan nasional (Tannas) yang akan dan harus diwujudkan dan dimulai dari kondisi new normal,” ujar AM Putut Prabantoro, sebagaimana dikutip dari Rmol.id (26/05).  

Menurut Putut, dalam konteks new normal, pemerintah harus dibantu dan  tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri demi mewujudkan “The New Indonesia”. 

Baca Juga:  MAKI: Andi Irfan Buang Ponsel ke Laut Hilangkan Bukti Percakapan Djoko Tjandra

Putut mengatakan, perjuangan memberantas virus Corona merupakan perang sesungguhnya yang sedang dihadapi dunia untuk menggapai kehidupan yang normal

“Prihatinnya, perang ini sungguh sulit ditentukan kapan berakhir dan dimenangkan mengingat musuh yang dihadapi tak nampak meski ketakutan atau teror yang dibuatnya sudah sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Covid sebagai musuh tak nampak ini, lanjutnya, mengingatkan semua bangsa terhadap tiga ‘senjata utama” yang harus dimiliki untuk memenangkan perang.  

Menurut Putut kemah bangsa Indonesia bisa memenangkan perang melawan Corona apabila memiliki ketahanan di bidang pangan, air dan enerji, yang merupakan senjata utama, terlebih saat masa darurat dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan, kekhawatiran utama yang muncul adalah apakah pangan masih tersedia. 

Baca Juga:  Bela KAMI, Demokrat: Justru Buzzer yang Memecah Bela Bangsa

“Setidaknya dalam waktu satu bulan sudah dua kali yakni April dan Mei 2020, Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat Indonesia tentang ancaman krisis pangan,” urainya.

Dalam konteks ini, mengingat waktu perang melawan Covid-19 tidak berbatas. Peringatan Presiden Jokowi harus diartikan sebagai kondisi sangat mendesak untuk mewujudkan ketahanan pangan.

“Jika tidak ada pangan apakah kita tidak akan menanam sendiri, apakah tanahnya ada, dan apakah masyarakat Indonesia mau kembali ke sawah?” sambungnya.

Baca Juga:  Ditangkap Lagi, Habib Bahar: Demi Allah, Saya Tidak Akan Kapok Melawan Kezaliman Penguasa

Putut menekankan, pembentukan karakter bangsa Indonesia, harus dibangun kembali dengan pendekatan berbeda agar “The New Indonesia” juga memiliki warga negara yang memiliki wawasan baru dalam ketahanan nasional.

Tanpa pembentukan karakter dengan cara yang berbeda, bangsa Indonesia tidak akan mampu menghadapi tantangan global menuju tahun emas 2045.[Brz]