Mahasiswa Buka Suara, Negara Diam Seribu Bahasa

Indah Syam Humaira
Indah Syam Humaira

Oleh: Indah Syam Humaira

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UIN Banten melakukan aksi demo terkait tuntutan penggratisan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di depan Gedung Rektorat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Senin (22/6/2020).

Bacaan Lainnya

“Seharusnya pihak kampus mengeluarkan keputusan yang bijak mengenai pembayaran UKT dan bertransparansi terkait anggaran pengeluaran kampus selama pandemi Covid-19,” kata Ade selaku Presiden Mahasiswa UIN BANTEN dalam orasinya.

Adapun tuntutan yang diajukan oleh Aliansi Mahasiswa ini kepada pihak kampus UIN Banten yakni sebagai berikut :

1. Menggratiskan UKT Mahasiswa semester ganjil tahun ajaran 2020/2021 tanpa syarat.

2. Memberikan subsidi kuota internet selama perkuliahan online.

3. Transparansi anggaran pengeluaran kampus selama pandemi Covid-19.

4. Memberikan pelayanan akademik secara maksimal kepada Mahasiswa.

5. Membuat regulasi tentang pemberian nilai mata kuliah minimal B kepada Mahasiswa.

6. Membuka seluas-luasnya kebebasan berpendapat dan berkreasi Mahasiswa dimuka umum.

7. Memberikan kejelasan status Organisasi Kemahasiswaan UIN Banten selama pandemi. (Bantennews.co)

Pandemi masih membelenggu negeri ini, kini mahasiswa menjunjung tinggi hak untuk diadili sebab UKT meninggi. Sulitnya para orang tua dalam perekonomian sehari hari membuat biaya pendidikan menjadi beban hingga mencekik. Ironi kehidupan dalam bingkai hidup kapitalisme semuanya serba di komersialisasi sampai sampai pendidikan yang katanya bagian tujuan negara dalam UUD 1945 tidak juga terealisasi “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.

Harapan untuk “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” kini hanya tinggal kata, yang tertinggal hanyalah luka para mahasiswa serta orang tua. Uang Kuliah Tunggal (UKT) tak mampu terbayarkan, bagaimana mau dibayar uang saja tak ada sebab lapangan pekerjaan ditutup hingga waktu yang tak ditentukan. Untuk makan sehari-hari saja, syukur-syukur bila ada.

Ini juga yang kemudian membuat sistem pendidikan hingga hari ini tidak baik-baik saja, karena paham sistem kapitalisme sekuler selalu mengutamakan materi untuk diri sendiri (para penguasa) tanpa mau memikirkan kemaslahatan bagi umat (rakyat).

Negara ada untuk Kecerdasan Bangsa

Seharusnya negara hadir berperan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa terlebih lagi disaat pandemi ini. Jangan sampai karena hal tersebut, ada mahasiswa yang tidak bisa kuliah karena kesulitan UKT.

Tetap diberlakukan nya pembayaran UKT, ini merupakan sebuah bentuk lepas tangannya negara dalam menjamin pemenuhan pendidikan bagi warga membuat lembaga pendidikan harus jungkir balik mencari dana untuk memenuhi kualitas pendidikan, alhasil biaya pendidikan semakin mahal. ⁣

Maka wajar bila kalangan atas saja yang mampu menikmati pendidikan yang layak. Kalangan bawah hanya mampu gigit jari, menjerit kesana kemari.

Pendidikan Perspektif Islam

Dalam Islam, pendidikan dijamin langsung oleh negara dan diperoleh secara gratis dengan kualitas terbaik, tidak perlu mikir biaya sampai dahi mengernyit. ⁣Negara wajib menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara secara cuma-cuma. Mereka diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melanjutkan pendidikan secara gratis.

Negara berkewajiban mengatur segala aspek berkenaan dengan sistem pendidikan, bukan hanya persoalan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah.

Berkenaan hal ini, Rasulullah saw. memerintahkan dalam haditsnya: _“Seorang Imam (khalifah/ kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim)._

Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Ahkaam menjelaskan bahwa seorang kepala negara (khalifah)  berkewajiban untuk memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat.

Sebagai perbandingan, Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar ( 1 dinar = 4,25 gram emas) (sekitar 29 juta rupiah dengan kurs sekarang,).

Jika kita melihat sejarah kekhalifahan Islam maka kita akan melihat perhatian para khalifah terhadap pendidikan rakyatnya sangat besar demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya. Banyak hadits Rasul yang menjelaskan perkara ini, di antaranya: “Barangsiapa yang kami beri tugas melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (gaji/upah/imbalan), maka apa yang diambil selain dari itu adalah kecurangan” (HR. Abu Daud).

Perhatian  para khalifah bukan hanya tertuju pada gaji para pendidik  dan biaya sekolah. Tetapi juga sarana lainnya, seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dan lain lain. Di antara perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Mosul didirikan oleh Ja’far bin Muhammad (wafat 940M). Perpustakaan ini sering dikunjungi para ulama, baik untuk membaca atau menyalin. Pengunjung perpustakaan ini mendapatkan segala alat yang diperlukan secara gratis seperti pena, tinta, kertas, dan lain lain. Bahkan kepada para mahasiswa yang secara rutin belajar di perpustakaan itu diberikan pinjaman buku secara teratur. Seorang ulama Yaqut Ar Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa karena mereka mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun perorang. Ini terjadi masa kekhalifahan abad 10 Masehi. Bahkan para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.

Seperti pada masa khalifah Harun Al-Rasyid, yang melahirkan ilmuwan dan pakar yang hebat dalam berbagai bidang. ⁣Bidang filsafat: al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusyid. Kedokteran: Jabir ibnu Hayan, Hunain bin Ishaq, Tabib bin Qurra, Ar-Razi. Matematika: al-Khawarizmi. Astronomi: al-Fazari, al-Battani, dan sebagainya.⁣⁣

Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (lihat Al Baghdadi, 1996), negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Pada masa sekarang jika kekayaan Sumberdaya Alam dikelola Negara dengan benar maka bukan tidak mungkin sistem Pendidikan Khilafah dapat diterapkan menggantikan sistem pendidikan sekuler saat ini.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pos terkait