Triple Khan dan Krisis Identitas Muslim di Industri Bollywood

  • Whatsapp
Triple Khan

Nahdoh Fikriyyah Islam/ Dosen dan Pengamat Politik

Kerusuhan yang melanda wilayah India masih terus berlanjut. Pembantaian dan kekerasan fisik pada kaum muslimin di beberapa wilayah di India masih terus dilakukan oleh sekelompok Hindu esktremis dan dibantu oleh aparat keamanan. Minggu lalu korban jiwa dikabarkan mencapai 30 orang lebih. Dan minggu ini bertambah hingga mendekati angka 40 lebih korban jiwa. Salah satu informasi viral adalah kematian seorang pemuda yang ingin menikah di wilayah UP (Uttar Paradesh), ketika perusuh bertanya kepadanya perihal identitas, ia menyebutkan namanya yang berbau ke arab-araban yang menunjukkan bahwa ia seorang muslim. Seketika lima peluru pistol langsung menghujani tubuh calon pengantin pria tersebut. Betapa miris dan pilu menyaksikan pembantaian dan kebencian warga Hindua ekterimis terhadap ummat Islam.  warga muslim di India hanya punya satu kesalahan, yaitu karena mereka  beragama Islam.

Bacaan Lainnya

 Negara India kini sedang menuai kecaman dari beberapa negeri muslim, kutukan, protes, hingga usulan mengusir kedubes India dari beberapa negeri muslim menjadi tuntutan para demonstran. Seperti Erdogan (Turkey), Imran Khan (PM Pakistan), warga musim Banglades, warga Kahsmir, Malaysia, dan juga masyarakat muslim di Indonesia. Kedubes India didatangi oleh para demonstran meminta aksi brutal terhadap warga muslim di India segera dihentikan sebab tidak mencerminkan hal yang dijunjung oleh perdamaian dunia dan juga toleransi beragama. Ironisnya, aksi protes terhadap perilaku biadab Hindu ektremis justru tidak datang dari aktor kenamaan Bollywood Triple Khan (Shah Rukh Khan, Salman Khan, Amir Khan) yang notabene adalah muslim kenamaan di industry Bollywood. Triple Khan masih bungkam dan tidak berani mengeluarkan pembelaan terhadap saudara sesama muslim mereka. Bahkan Anubav sinha menyangkan sikap Triple Khan yang sebenarnya mempunyai fans ratusan juta di India bahkan seluruh dunia. Industry Bollywood juga bisa berdiri tegak adalah berkat ketiga nama Triple Khan. Namun kenapa tidak ada pembelaan sedikitpun terdengar dari para bintang kenamaan Bollywood ini? ada apa dengan mereka?

Identitas Muslim Para Bollywooders, Antara Ada Dan Tiada      

Hal yang wajar jika para penggemar Bollywood menyesalkan kebungkaman Triple Khan saat melihat situasi dan kondisi kaum muslimin di India. Seperti dilansir dari salah satu media lokal India, Shah Rukh Khan, ketika ditanya tanggapannya terkait peristiwa pembantaian ummat Islamoleh Hindu extreimis, ia hanya menjawab, “Saya muslim, istri saya Hindu, anak-anak saya Hindustan”. Sebuah pengakuan yang tidak menunjukkan penolakan ataupun persetujuan.  Ucapannya terkesan sangat hati-hati.

Sebenarnya jika melihat Triple Khan dan mayoritas Bollywooders muslim lainnya dalam keseharian hidup, mereka adalah orang-orang yang glamour, penuh ketenaran dan banyak meraih internasional awards.  Mereka banyak membangun rumah tangga dengan wanita-wanita Hindu. Mungkin mereka ingin menunjukkan indahnya toleransi beragama di India. Sebab pernikahan muslim-hindu di kalangan Bollywooders adalah hal biasa dan seperti shah Rukh Khan, Amir Khan, Sunil Shetty yang jarang pemberitaan gossip miring. Apalagi perusahaan yang membesarkan nama mereka adalah perusahaan entertainment yang tentunya bersandarkan pada kapitalisme liberal.

 Bukan hanya di dunia Bollywood, industry perfilman tanah air juga kental dengan sekulerisme dan liberalisme. Sebab, target yang diraih hanyalah rating dan juga reward. So, uang dan  ketenaran adalah hal utama yang harus diraih dalam dunia entertainment. Jkesimpulannya, semua industry entertainmen itu landasannya sekuler liberal yang kapitalis. Terkait dengan Bollywood, adakah pernah mengangkat kisah yang jujur dalam  movie-nya? Atau adakah drama Indonesia yang menunjukkan film atau kisah keislaman yang menyeluruh? Yang ada hanya berbau Islami, tetapi sudah banyak didistorsi sesuai naskah sutradara bukan lagi bukti sejarah atau hakikat nash dan dalil. Dalam dunia perfilman kapitalis, kisah islami hanya pemanis, penambah warna dan rasa dalam cerita-certa fiktif movie. Apalagi jika target pasar adalah menyasar Negara mayoritas muslim, seperti Indonesia, Malaysia dan Turki. Jelas aroma-aroma islami adalah penyedap rasa film.

Jadi, bukan hal yang aneh jika Boollywooders seperti triple Khan, Alia Bhatt, Saif Ali Khan, Sushmita Sen, Nashruddin Shah, Farida Jalal, dan lainnya terkesan bungkam. Karena mereka hanya bekerja untuk akting saja. Dan untuk akting, identitas keislaman sebagai muslim pun ditanggalkan. Sehingga banyak yang tidak tahu jika mereka beragama Islam atau muallaf misalnya. Identitas keislaman para Bollywoders antara ada dan tiada. Sebagian ajaran Islam masih dikerjakan yang sifatnya tidak menganggu karir dan pekerjaan meraka. Seperti merayakan idul fitrih, haji, ramadhan, shalat (meskipun kadang-kadang). Tetapi bagaimana dengan hijab, sejarah, kepedulian terhadap sesame muslim, aturan halal-haram lainnya? Sudah tidak lagi menyentuh Triple Khan dan Bollywooders lainnya. Sebab keislaman itu telah terkikis liberalisme akibat bergabung dengan industri Bollywood.

Belum lagi Bollywood selalu mempertontonkan tokoh dan peran antagonis yang identik dengan muslim. Penjahat, perampok, pemerkosa, pembantai ummat Hindu, selalu identik pelakunya adalah muslim. Seperti dalam film “ Hey Ram” yang mengisahkan kejahatan ummat Islam dan kelembutan Hindu ajaran Ghandi. Diperankan oleh Kamal Hassan, aktor muslim Bollywood yang berekting sebagai sosok muslim bengis dalam sejarah India dan suka melakukan pemerkosaan wanitah-wanita Hindu. Atau dalam film Lamha, pembantain muslim di Kashmir dibalik menjadi pembantaian warga Hindu di Kashmir. Begitu juga serial Zakhm, kelompok muslim yang membakara warga Hindu. Dan seperti serial Bajrangi Bhaijan yang dipertontonkan kekejaman tentara Pakistan dan kejujuran seorang Hinduisme. Sama halnya di serial The secret superstar, menunjukkan kasar dan brutalnya kehidupan keluarga muslim di India. Masih banyak lagi tentunya.

 Bukankah semua ini menjadikan kaum muslimin di India terus dipojokkan? Bahkan terlihat seperti alat bagi pemerintah India untuk menekan kaum muslimin dan juga mendustakana sejarah Islam di India. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya film. Ya, memang hanya film. Tetapi film yang memiliki propaganda negative dan penyebarana opini jahat serta dusta terhadap kaum muslimin di India. Ironisnya, suur keislaman para Bollywooders tersebut mati dan tidak peduli dengan dampak yang mereka pertontonkan. Adegan –adegan rusak serta menebar kerusakan.

Krisis Indentitas Akibat Sekulerisme dan Ketiadaan Institusi Politik Islam    

Lahirnya sekulerisme di dunia ini telah menyingkirkan Islam sebagai ideologi yang seharusnya ditegakkan dalam bernegara. Apalagi untuk Negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim seperti di Afrika Utara (Mesir, Lebanon, Tunisia, Libya,), Turki, Pakistan, Malaysia, Bangladesh, Indonesia, dan sebagainya. Namun hancurnya institusi politik Islam telah membuat negeri kaum muslimin terpecah oleh sekat nation state. Sehingga rasa ukuwah islamiyah yang menjadi pengikat kaum muslimin telah putus karena digantikan oleh nasionalisme maisng-masing. Triple Khan dan Bollywooders muslim lainnya merasa pongah dengan identitas Hindustannya bukan lagi karena keislamannnya. Akibat sekulerisme telah mendarah daging dalam diri mereka. Nashruddin Shah salah seorang aktor senior Bollywood pernah mengatakan kepada media India, bahwa jika ingin tinggal di India sangat sulit menjadi seorang muslim seutuhnya. Ia mnegakui hal tersebut karena merasa itulah yang terjadi pada dirinya selama ini.

Sekulrime telah mengikis aqidah ummat Islam perlahan-lahan tapi pasti. Jika shalat, puasa, zakat, dan haji dirasa tidak menganggu aktifitas politik atau ekonomi, maka sekulerisme memberikan keluasan bagi ummat Islam untuk menjalankannya. Namun ketika berbenturan dan harus memilih, maka orang-orang yang takut miskin dan posisinya terancam, maka ia akan memilih meninggalkan agamanya. Misalnya, waktu break syuting hanya 10 menit tidak sempat shalat, syuting sampai pagi tidak sempat sahur dan kelelahan akhirnya tidak puasa, mengumbar aurat karena tuntutan depan kamera. Kesemuanya adalah pilihan yang meninggalkan ajaran Islam. Lalu, adakah yang menghukum seorang muslim jika ia melanggar ajaran agamanya? Tentu sekulrisme tidak mau ambil pusing untuk hal itu. Sebab agama dalam perspektfi sekuler adalah urusan privasi masing-masing.

So, jika Triple Khan dan Bolywooders muslim lainnya memilih diam dan tidak peduli terhadap saudara seimannya, itulah dampak sekulerisme. Terserah mereka. Tidak ada yang memaksa. Dan adakah yang akan menghukum mereka jika mereka bungkam? Atau karena pro pemrintah India? Justru resiko akan mereka dapatkan jika pro kaum muslimin dan menentang pemerintah India. Sehingga pilihan bungkam adalah jalan paling aman.

Sebagai manusia saja, tentu hati menangis melihat pembantaian. Apalagi jika persoalan sensitif seperti agama yang menjadi akar masalahnya. Semoga Triple Khan dan Bollywooders muslim lainnya masih memiliki rasa perihatin dan empati terhadap saudaranya. Meskipun tidak terungkap dengan lisan, namun jauh di lubuk hati mereka diharapkan ada rasa bersalah dan menyesal karena tidak dapat berbuat apa-apa dengan ketenaran, harta dan pengaruh yang mereka miliki. Sebab semuanya kelak tidak akan dibawa mati. Justru Allah akan bertanya kenapa mereka bungkam ketika dihadapan mereka saudaranya dibantai. Tidak ada cara lain untuk menyadarkan saudara muslim yang acuh kecuali dengan dakwah. Mengingatkan mereka akan kewajiban-kewajiban sesama muslim. Sebab ada perintah Allah untuk saling menjaga dan membela. Kemudian, mengakhiri duka pembantaian ummat Islam di India dan Negara lainnya hanya akan selesai jika institusi politik kaum muslimin kembali ditegakkan. Dengan demikian, Bollywood akan disapu bersih karena mendistorsi ajaran Islam dan memfitnah kaum muslimin. Triple Khan dan Bollywooders lainnya akan diajak bertaubat dan kembali mengamalkan ajaran Islam yang benar secara kaffah. Maka perlunya institusi politik bagi ummat Islam amat sangat mendesak. Baik untuk menegakkan hukum-hukum Allah, memerangi orang kafir harbi, serta meninggikan izzah kaum muslimin. Dan institusi politik itu hanya akan tegak dalam sebuah Negara berasaskan Islam. Wallahu a’lam bissawab.

Pos terkait