The New Normal: Antara Ghost Protocol Dan Desentralisasi Global

Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro/Net
Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro/Net (Foto: Rmol.id)

IDTODAY.CO – Indonesia hari ini ibarat tokoh Ethan Hunt dalam film Ghost Protocol, sebagai tim mission impossible yang harus mengalahkan musuh utama yakni virus corona baru atau Covid-19.

Begitu dikatakan Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, di Jakarta, Kamis (28/5).  

“Yang menjadi kegundahan adalah, sekalipun Covid-19 masih menjadi pandemi, tim mission impossible ini tetap harus dapat mengantarkan masyarakat ke dalam tatanan kehidupan baru,” kata dia.

Bagi Putut Prabantoro, misi ini sangat berat, jika tidak dapat dikatakan mustahil karena Indonesia harus menyelesaikan permasalahannya sendiri termasuk mandiri dalam segala hal.

Tanpa disadari, semua negara terperangkap dalam desentralisasi global, kondisi dimana setiap negara harus fokus pada persoalan domestik yang ternyata sama dengan Indonesia.

Setelah Covid-19 menjadi pandemi, kata dia, masing-masing pemerintah me-lockdown-kan negaranya dan melarang pendatang asing masuk ke wilayahnya. Setidaknya 68 negara telah menyatakan larangan kepada pendatang asing termasuk Indonesia. Artinya setiap negara akan menyelamatkan hidupnya, berjalan sendiri sampai pada keyakinan pandemi sudah usai.

Baca Juga:  Ahok Ngaku Tidak Dapat Laporan Dari Dirut Pertamina, Pengamat: Dia Tidak Melakukan Terobosan Apapun

“Karena orang harus hidup, sementara Covid-19 belum ada penawarnya, setiap negara yang terdampak menyiapkan protokol new normal untuk mengantarkan masyarakatnya ke tatanan kehidupan baru. Indonesia tidak terkecuali,” katanya.

“Indonesia harus segera membangun kembali seluruh sendi kehidupan yang terdampak Covid-19 termasuk ekonomi dan sosial meski kondisinya sudah tidak sama,” dia menambahkan.  

Menurutnya, new normal merupakan habitus baru dalam kehidupan manusia ketika suatu negara dalam pengaruh Covid-19. Habitus baru itu menyangkut cara baru untuk hidup termasuk berpikir, berkomunikasi, berperilaku dan bertindak. Oleh karena itu, new normal harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk mewujudkan The New Indonesia yakni negara yang mandiri dan bebas dari ketergantungan.

Baca Juga:  Soal Moeldoko Beri Uang ke Ketua DPC Peserta KLB, Demokrat: Pengacara Mereka Tak Bisa Membantah

Melalui new normal ini, habitus baru Indonesia harus berujung pada terwujudnya ketahanan nasional yang dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk ipoleksosbudhankam, demografi, geografi dan manusianya.

“Meskipun dianggap mustahil atau impossible, sebenarnya sudah kepalang tanggung. Karena desentralisasi global terbentuk, seharusnya new normal atau habitus baru Indonesia berakhir pada terwujudnya The New Indonesia yakni negara Indonesia yang mandiri dan kuat,” jelasnya.

Masih terkait dengan new normal, Putut mengaku teringat tag line Ghost Protocol yakni, “No Plan, No Back-Up dan No Guide”.

Tag Line ini sekaligus mengingatkannya tentang kekalahan Jepang atas sekutu setelah pemboman Hirosima dan Nagasaki sebagai momentum kemerdekaan Indonesia. Tidak ada satu rencana, tidak ada dukungan kekuatan dari negara besar ataupun petunjuk menjalankan sebuah negara yang baru merdeka, ketika Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Baca Juga:  Natalius Pigai Sebut Jokowi Presiden Paling Gagal Dalam Membela Rakyat Miskin

Dalam situasi yang serba tidak pasti itu, tim mission impossible yang dipimpin oleh Soekarno menjalankan negara Indonesia.

“Meskipun disebut mustahil, impossible, tidak mungkin, atau tidak pasti, habitus baru atau new normal tetap harus dijalankan jika ingin hidup,” ujarnya.

Hanya saja, sambungnya, kemustahilan akan menjadi kenyataan ketika seluruh beban dijatuhkan kepada pemerintah semata dan masyarakat bersikap terserah.

“Ini momentum bangsa Indonesia. Masyarakat dan pemerintah harus menjadi tim mission impossible,” demikian Putut Prabantoro.

Sumber: Rmol.id