Kesal, Pendiri Telegram Sebut Pemilik iPhone Jadi “Budak Digital” Apple

  • Bagikan
Kesal, Pendiri Telegram Sebut Pemilik iPhone Jadi "Budak Digital" Apple
Founder Telegram Pavel Durov(Foto: Techcrunch)

IDTODAY.CO – Pernyataan mengejutkan disampaikan oleh pendiri Telegram, Pavel Durov terkait vendor ponsel terkenal, Apple. Pernyataan tersebut berkaitan dengan fakta terkait peranan Apple dalam kegiatan pengawasan dan sensor di China yang berhasil diungkap dalam artikel New York Times.

Menurutnya, hal tersebut bukanlah sesuatu yang aneh karena memang sudah menjadi tradisi perusahaan besar untuk mengedepankan profit daripada kebebasan. Alhasil, dia dapat memaklumi sikap tunduk Apple pada pemerintah Negeri Tirai Bambu.

Baca Juga:  Elite Indonesia Lupa Silicon Valley Tak Tumbuh dalam Semalam

Baca Juga: Viral Modal Kartu Kredit Ayah, Cewek Cantik Huni Rumah Rp 244 M

Khusus untuk Apple, pabrikan itu disebutnya “sangat efisien” mendulang untung dengan menjual perangkat berteknologi usang yang dihargai kelewat mahal, kepada konsumen yang dikunci di dalam ekosistem eksklusif.

Apple pun manut kepada China, termasuk dengan menyensor aplikasi-aplikasi App Store yang dipandang bisa bersinggungan dengan pemerintah, serta menyerahkan data pengguna dari China ke server yang dikelola oleh perusahaan milik pemerintah China pula.

Baca Juga:  Asteroid Besar Ancam Bumi, Indonesia Tak Punya Roket Penghancur

“Memiliki iPhone membuat Anda jadi budak digital Apple – Anda hanya bisa memakai aplikasi yang dibolehkan Apple dari App Store, dan Anda hanya bisa menggunakan iCloud Apple untuk mencadangkan data,” tulis Durov di kanal Telegram miliknya., Sebagaimana dikutip dari Kompas.com (22/5/21).

Menurut Durov, pendekatan “totaliter” ala Apple ini, senada dengan sikap Partai Komunis China sehingga keduanya pun akrab. Lewat Apple, lanjutnya, pemerintah China sepenuhnya bisa mengendalikan data dan aplikasi warganya yang menggunakan iPhone.

Baca Juga:  "Tergantung" China, Teknologi iPhone Usang dan Kelewat Mahal

Durov menyebut layar iPhone sebagai salah satu “teknologi usang yang dihargai kelewat mahal”. Refresh rate yang didukung hanya 60 Hz, tertinggal jauh dari panel 120 Hz di ponsel-ponsel Android yang menampilkan animasi gerakan lebih mulus.

Baca Juga: Coba Jujur, Seorang Guru TK Malah Dipecat Sekolah karena Malu Ditagih Hutang

“Setiap kali saya harus menggunakan iPhone untuk menguji aplikasi iOS, saya merasa seperti terlempar ke abad pertengahan,” ujar Durov lagi.

Baca Juga:  Peneliti: Presiden Jokowi Harus Gratiskan Internet Agar Silaturahmi Tetap Jalan Saat Diberlakukan Larangan Mudik

Laporan New York Times menegaskan posisi China yang begitu “berharga” bagi Apple. Pasalnya, di sanalah sebagian besar produknya dibuat. China juga menyumbang sekitar sepertlima dari pendapatannya.

Sementara itu, Direktur Amnesty International untuk wilayah Asia, Nicholas Bequelin, mengatakan bahwa Apple mengendalikan aktivitas-aktivitas di jaringan internet di China sekaligus sebagai mesin sensor pemerintah tersebut

“Kalau Anda lihat dari perilaku pemerintah China, Anda tak melihat ada perlawanan apapun dari Apple – tak ada sejarahnya membela prinsip yang menurut Apple selalu dijunjungnya tinggi-tinggi,” tegas Bequeli.

Baca Juga:  Nokia 8.3 5g Harga dan Spesifikasi Beserta Fitur yang Ditawarkan

Baca Juga: Heboh Video Pagar Rumah Dituding Serakah Makan Jalan, Ini Kata Pemiliknya…

  • Bagikan