Kubu Moeldoko Siap Bongkar ‘Dewa’ SBY, Partai Demokrat: Membuat Sensasi untuk Mencari Perhatian

Kamhar Lakumani. (Foto: jitunews.com)

IDTODAY.CO – Kubu Moeldoko menyatakan siap menguliti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di pengadilan. Sekretaris Bapilu Partai Demokrat, Kamhar Lakumani, menyebut gerombolan KLB membuat sensai untuk mencari perhatian.

“Gerombolan KLB abal-abal pasca-penolakan pengesahan hasil KLB oleh Menkumham terus-menerus membuat sensasi untuk mencari perhatian,” kata Kamhar kepada wartawan, Selasa (6/3).

Menurutnya, kubu Moeldoko memutarbalikkan fakta. Kamhar menyebut gugatan kubu Moeldoko belum memenuhi legal standing.

“Memutarbalikkan fakta seolah memiliki legal standing dan legitimasi atas apa yang disampaikannya. Padahal sebaliknya,” ujarnya.

Kamhar menyebut Juru Bicara Kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad, tidak punya hak bicara soal Partai Demokrat.

“Rahmad sama sekali tak punya hak berbicara atas nama atau membawa-bawa Partai Demokrat pasca-pengunduran dirinya dari keanggotaan Partai Demokrat sejak 2013 yang lalu. Apalagi pasca-penolakan pengesahan hasil KLB abal-abal,” ujarnya.

“Jika normal dan waras semestinya malu. Bukannya terus-menerus merepresentasi wacana picisan yang semakin mempermalukan diri mereka di mata publik,” lanjut Kamhar.

Kamhar menyebut kubu Moeldoko berhalusinasi sehingga tidak bisa membedakan khayalan dengan kenyataan.

“Mungkin ini yang dimaksud Razman, gerombolan KLB abal-abal banyak yang terpapar virus halusinasi. Tak bisa membedakan khayalannya dengan kenyataan,” pungkasnya.

Sebelumnya, kubu Moeldoko menanggapi saran yang disampaikan Andi Mallarangeng.

“Terkait opsi ketiga Andi yang menawarkan langkah melalui pengadilan, itu adalah tawaran yang menarik dan serius untuk dijalankan. AD/ART Partai Demokrat 2020, yang menjadikan SBY ‘dewa’ penguasa tunggal di dalam partai, adalah bertentangan dengan UU Partai Politik yang ditandatangani SBY sendiri saat jadi presiden,” kata Rahmad dalam keterangannya, Senin (5/4).

Rahmad menyinggung soal 98 nama pendiri Partai Demokrat yang dihilangkan oleh SBY di AD/ART 2020.

“Publik juga bisa menguji manifesto Partai Demokrat yang katanya bersih, cerdas, dan santun yang selalu didengung-dengung SBY saat kampanye, saat memimpin partai, dan bahkan sampai saat ini. Publik juga layak mengetahui secara terbuka apakah SBY sungguh-sungguh menjadi pendiri Partai Demokrat atau bukan,” ujarnya.

Baca Juga: Rizal Ramli, Putri Gus Dur Hingga Jubir Presiden Berduka Atas Wafatnya Cendekiawan Daniel Dhakidae

Sumber: jitunews.com

Pos terkait